Perjalanan kali ini, entah keberapa kalinya ke Siem Reap Kamboja. Aku senang berada disana bukan karena negaranya, tapi lebih kepada kesamaan budaya dan juga sejarahnya. Bedanya dengan di Indonesia, orang disini lebih sadar menjaga peninggalan sejarahnya, sehingga kita bisa belajar banyak mengenai sejarah Asia disini.

Lalu kalau keliling di Asia Tenggara seperti Laos, Vietnam, Kamboja dan Thailand,  kita masih bisa berhemat, dibandingkan ke negara lainnya seperti Singapore dan Hong Kong.

Hari ini jalan kaki biar kurus ceritanya … (tapi nanti berakhir makan siang di bekas French Ambassador Mansion hahahaha). Lumayan 35 menit ke National Angkor Museum dari hotel…  petunjuk jalan disana seperti orang di Jawa, katanya ‘nggak jauh kok cuma 5 menit jalan kaki’— lima menit dari mana… lewat tigapuluh menit baru ketemu itu Museum. Rasanya sih aku dah turun sekilo haha.

Sampai juga di museum ini… dari luar sih sepertinya tidak ada yang istimewa. Tapi ternyata salah besarrr. Waktu masuk tadinya mikir apaan sih ni museum, paling seperti di Museum Nasional kita, ditumpuk semua barang. Panas lagi … Eh kejutan besar begitu masuk, seperti masuk kemall, disambut Ac dan kipas angin, lalu lighting yang ok banget menyorot berbagai koleksinya. Padahal itu baru penampakan lobby.

Terkejut aku di dalamnya.  Museum Nasional kebanggaan Indonesia saja kalah pamor begini mah. Dari luar bangunannya sih biasa saja, juga lobi penjualan tiket, tapi begitu lewat dari pintu masuk, nah mulailah melongo. Yang keren adalah penataan ruangan, cahaya, warna, kaca, dan pembagian ruangan. Aduh pokoknya top dah…Emejing habis …

Selain itu wall paper dindingnya mengambil relief2 dari berbagai candi mereka dan ditempelkan sesuai thema ya ada. Wallpapernya itu rasanya ingin pesan buat bawa pulang. Gimana cara ya. Tapi ditempel dimana ya,nanti apartemenku jadi kaya museum. Ahaha. Situ kalau bingung, bisa juga menyewa  keterangan rekaman yang bisa disewa. Ada dalam berbagai bahasa seperti China, Jepang, Perancis , German, Inggris. Cuma bayar lagi $3 unuk menyewa peralatannya.

Tiket masuk sih cukup tinggi ya $12. Tadi belinya di hotel jadi tidak usah ngantri. Nampaknya Museum Nasional kita harus berbenah dan belajar banyak dari penataan display di Museum Angkor, benar-benar kualitas dunia. Juga kemudahan pembelian tiketnya itu, rupanya di setiap hotel mereka punya stock tiket. Aduh. Harusnya museum-museum di Indonesia begitu ya, kerja sama dengan berbagai hotel.

Kalau koleksinya sih ya mungkin tidak sebanyak di Indonesia, tapi penataannya itu. Wah banget, seperti masuk ke museum-museum di Eropa. Dan benar-benar disusun bertema, tidak ditumpuk begitu saja. Kalau masuk di Museum Nasional Indonesia, kita keleyengan barang sekian banyak apa ya, nggak bercerita. Disitu tuh semuanya terasa hidup, karena menyampaikan pesan masing-masing. Asik serasa tenggelam ke beberapa abad yang lampau. Tulisan di setiap keterangan besar-besar, dan mudah dibaca. Komposisi warnanya dan tulisan di semua ruangan dibuat sama, sehingga tidak juling bacanya.

Tempat pembelian tiket di Angkor National Museum. Harganya $12. Kita juga bisa langsung membelinya dari hotel tempat kita menginap. Rata-rata mereka menyediakan tiket ke berbagai tempat wisata di Siem Reap.

Setelah antri kita masuk naik ke jalan berputar, naik 2 lantai seperti di Citraland gitu deh. Dan di atas kita disambut dengan hall yang berisi berbagai patung dari Kamboja. Dari sini dibawalah ke ruangan briefing…

Ruangan pertama yang dimasuki adalah briefing room. Hihihi aku jadi ingat waktu jaman jadi konsultan, dikumpulin di ruangan meeting ditentir gitu. Pada duduk di meja dan kursi masing-masing. Mendekap tangan dan mendengarkan dengan tekun. Lalu dengerin sambil ngantuk itu trainernya. Gila udah kaya robot. Hahahahaha…

Ehhh salahhhh persepsi dah … , kirain mirip. Itu ternyata amphitheater besar sekali… seperti bioskop, namun yang diputar adalah bagaimana cara menikmati koleksinya per ruangan.

Disitu diputar video dokumenter mengenai koleksinya setiap kelompok ruangan. Ruang A isinya ini, Ruang B isinya ini dst. Udah nganga dong. Ihhhh gila bisa keren begini, lupa deh si $12 tadi. Bagusssss. Bagus pake banget dah. Semua pakai Inggris ya, makanya belajar Inggris yang bener buat yang belum menguasai. Pasti dipakai kok. Yang hebat penataan lighting dan video serta audionya pas semua, jadi serasa kita terbawa di jaman raja raja jaman Khmer dahulu. Pan di layar bergantian dia cerita kerjaan jaman baheula itu. Selesaiiii… lampu menyala dan kita digiring pindah keluar ruangan masuk ke ruang berikut.

Ruang galeri terbuka di Angkor National Museum. Biasanya disini digunakan untuk berbagai pameran. Ketika aku berkunjung, disana sedang ada pameran batik-batik Kamboja. Sama-sama namanya batik tapi layout gambar, motif dan coraknya sangat berbeda dengan batik Indonesia.

Ruangan berikutnya yang dikunjungi adalah ruangan koleksi Budhism. Waduhhhh no comment kudu liat sendiri deh. Lihat saja fotonya ya…

Budha dalam berbagai posisi, dari mulai berbagai negara, dari mulai berbagai jaman, ada disini. Pokoknya takjub habis. Apalagi jika kita tahu cerita masing-masing posisi Buddha itu menyiratkan filosofi apa. Disana  tidak asal asalan menatanya, dimulai dari jaman yang paling kuno sampai koleksi yang terwah benar-benar mencerminkan kekayaan negara Kamboja ini. Pencahayaannya aduh top habis.

Kita bisa belajar banyak mengenai Buddhisme dan Hinduism disini. Serta pengaruhnya terhadap Kerajaan Khmer jaman dahulu dan Kamboja pada abad modern sekarang. Lagi-lagi jadi bertanya  : Kenapa Indonesia nggak bisa bikin begitu ya ? Siapa itu di balik konseptornya? Briliant banget … Kenapa nggak ke Indonesia, orang-orang itu diundang.

Dilarang motret ya dimana-mana. Tapi dengan sedikit-sedikit smile smile dan ngumpet-ngumpet, sebagian hasil jepretan koleksinya bisa dilihat disini. Pokoke tiap ruangan kucing-kucingan dengan penjaganya demi dapat koleksi foto langka. Udah beberapa kali ditegur tetep bandel… demi koleksi foto kenangan dan pemirsa. Ahahaha. Sekalian promosi Kamboja di Indonesia, ya kan Mister Ambassador Kamboja?

Kejutan lainnya tiap jalan keluar ruangan dan periode yang satu ke yang lain, ada amphitheater kecil … Layarnya sih tetap lebar… Kita tinggal duduk dan memilih mau bahasa apa.

Perancis, Jerman, Inggris, China, Jepang adee… Pencet aja di sebelah videonya. Lalu dimulailah video dokumenternya nya. Wahhhh toppp… Ilustrasi, foto, cahaya, alur cerita dibuat semenarik mungkin. Asik dah serasa tembus ke jaman itu. Mana beda-beda cerita lagi. Tergantung di bagian tersebut sedang menampilkan koleksi apa.

Beneran pelajaran sejarah itu tidak membosankan. Mereka memadukan berbagai cerita hikayat, legenda dan penemuan sejarah untuk membuat ilustrasi filmnya, ditunjang dengan musik tradisional yang elegant pokoknya betah banget deh.  Eh kalau bisa jangan bawa anak terlalu kecil kalau kesini. Soalnya kasihan nanti mereka bosen. Kalau remaja mungkin boleh karena untuk  memperkenalkan budaya.

“Traveling – it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.”

Ibn Battuta

Keren bener dah … Koleksinya dibagi dari mulai koleksi Buddhism, lalu bergerak ke arah sejarah Angkor, Religi, Inskripsi di pelbagai batu tulis, jenis-jenis pakaian wanita dari berbagai jaman di Angkor, display peninggalan beberapa cerita mengenai the Grand Angkor & Angkor Thorm dan tentunya toko museum …

Di tiap jaman dan ruangan, aku belajar banyak mengenai kerajaan-kerajaan kuno Angkor (karena periodenya dan rajanya berbeda dalam kutun waktu berabad-abad, agama yang ada,  kenapa ada agama itu, legenda-legenda yang ada, legenda kelahiran Garuda, fungsi naga di Khmer, perwujudan Brahma – Visnu – Shiva, dan lautan kolam susu ala Koes Plus (hahaha), kehidupan masyarakat jaman tersebut, banyak tentang Hinduism dan lain sebagainya.

Itu si kolam susu, maksudnya ada satu panel panjang di Angkor yang menceritakan lahirnya para dewa apa yang ada di lautan susu. Pulang keluar dari Museum ini rasanya sepertinya pencerahan jiwa,  kepala padet ilmu baru seru dah …

Sayang Borobudur tidak dibikin seperti itu, juga Museum Nasional kita. Padahal yakin lebih seru ceritanya kan… Kita tuh ya bangsa Indonesia, bangsa besar kok yang beginian tidak dibangun banyak-banyak. Kalau ada narasi serta video, serta display yang menarik untuk museum candi di Indonesia, yakin dah banyak turis yang mau datang. Legenda-legenda daerah kita itu sangat menakjubkan kalau ada yang bisa buat konseptornya dan dipajang di museum. Jadi museumnya  bukan hanya pameran benda mati saja, tapi juga ada ceritanya. Pasti asik.

Karena asik dengan berbagai koleksinya tak terasa 3 jam berlalu. Ya iyalah tiap film aku lihat satu-satu, belum lagi koleksinya aku baca satu-satu. Waduh serasa pelajaran sejarah nasional SD keluar lagi. Banyak koleksi mereka yang tumpang tindih dengan koleksi kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha di Indonesia, jadi sambil lihat-lihat sekalian ingat-ingat oh kalau ini berarti hubungannya ke kerajaan Sriwijaya bagaimana ya, Dinasti Syailendra di Indonesia saat memerintah di Jawa kira-kira ada say hello nggak ya, sama raja di Khmer. Seru dah. Di kepala berseliweran mencocokan data Kerajaan apa di Indonesia saat abad berapa , apa ada hubungan dengan kerajaan Khmer saat itu.

Pengaruh India di Indonesia, Thailand dan Kamboja pada seni saat itu, kok bisa diakulturisasi dan dielaborasi oleh masing-masing negara lalu kok jadi beda-beda ya. Benar-benar dikupas banyak sekali kebudayaan Hindu dan Buddha yang lebih tua dari Islam dan Kristen itu. Sangat mengasah otak kalau kita mau belajar disini. Filosofi manusia saat itu. Bagaimana cara berpikir mereka sampai bisa membangun kota hebat seperti Angkor, ada disini. Semua bangunan, ukiran, relief apapun melambangkan alam semesta.

Aduh, itu abad-abad Sebelum Masehi sampai sekitar  tahun 1000 – 1200 mereka bisa punya filosofi dan kebijakan (wisdom) berpikir seperti itu bagaimana ya ? Kok ya di sekarang di Indonesia malahan menurun. Padahal yakin kita punya harta karun ilmu yang lebih canggih dari jaman-jaman itu.

Yang seru dua ruangan terakhir, satu adalah Angkor Thorm dan lainnya Angkor Watt. Itu beneran ruang maha karya. Wajib kudu kesini pokoknya. Full surprise. Takjub habis…

Duhhh ruang display Angkor Thorm ruangan tengahnya dibolongin… Patung2 di taruh disitu dengan berbagai lighting dan seluruh dindingnya dihias dengan wallpaper candi dari angkor Thorn. Super keren. Cantik sekali. Karena ruangan yang terbatas, mereka dengan cerdik bercerita dari wallpapernya itu di seluruh ruangan, dengan memotret berbagai sudut Angkor Thorm. Bagi yang belum tahu Angkor Thorm itu yang dipakai lokasi Angelina Jolie main film deh. Nah makanya ngetop.

Lagi mikir itu Borobudur difoto-foto dicetak jadi wallpaper keren kali ya. Jadi kita berkeliling ruangan  untuk melihat cerita Angkor Thorm dan beberapa patung dari sana. Itu teknologi patungnya mirip dengan Borobudur, namun kualitas buatannya lebih halus. Lalu kalau dari Borobudur itu patung-patungnya manis (manis gulali gitu loh – nggak serem) hahaha. Mungkin karena menunjukkan posisi Buddha. Ya Buddha nggak mungkinlah dibuat garang, orang dia damai begitu.

Kalau Angkor patungnya garang, apa ya … auranya itu menyatakan ini gue loh kerajaan besar, jangan macam-macam. Nah gitu deh. Serem sih tapi keren. Ini salah satu ruangan yang aku jatuh cinta disini. Walau displaynya sedikit,  tapi yang buat itu jenius bener dah.

Kejutan lainnya menanti, berikutnya kita akan masuk ke ruangan Angkor Watt. Ruangan Angkor Watt ternyata hanya ruangan amphiteathre berbentuk donat bolong di tengah. Aku masuk pas film lagi diputar di tengah. Jadi gelap gulita. Sembari mencari dalam kegelapan akupun merayap mencari tempat duduk.

Begitu selesai lampu menyala pelahan dan byarrrr lampu mulai menyorot di tengah-tengah kue donat, ada maket Angkor Watt yang dibelah dua… Jadi bagian bawahnya ada keterangan peta wilayah Watt tersebut. Waduhhh keren dah. Sementara ternyata di sekeliling ruangan adalah keterangan mengenai Angkor Watt… Lalu setelah beberapa menit lampu mulai meredup kembali. Buru-buru deh nyari kursi yang menghadap ke layar.

Karena penasaran jadi nonton lagi dari awal. Gelap lagi dong… eng ing eng… pelem dimulai.

Eh ternyataaa  superrrr bagusss filmnyaaa … Layarnya dibagi tiga… Yang tengah dimulai dari Angkor di pagi hari makin lama makin terang, (itu teknik apa ya? Time lapse?) dan lalu menjelaskan berbagai hal tentang Angkor, kiri dan kanan adalah cuplikan cuplikan video mengenai kehidupan sehari hari rakyat Kamboja dari jaman baheula sampai sekarang. Haduhhhhh ini baru namanya dokumenter. Gila itu ya teknik pembuatan filmnya. Seperti nonton National Geographic. Jangan-jangan yang buat juga team mereka. Beneran menunjukkan walau banyak rakyatnya sederhana, tapi mereka punya kebanggaan sama negaranya dan budayanya.

Sementara naratornya bercerita, maka layar ketiganya menyesuaikan gambar sesuai cerita. Kalau lagi adegan perang, ya sesuai juga. Penutupnya… Bukan keren lagi … Superrr dupeerrr bikin betah nonton berkali-kali… Angkor Watt di tengah meredup dan awan awan serta cahaya yang tadinya waktu pembukaan semburat ke arah kita, sekarang ditarik ke dalam… Jadi  di layar itu,  awan-awan lembayung masuk ke belakang candi dan lama lama menjadi gelap… Toppp dahhh.

Begitu selesai, si maket Angkor di tengah masih gelap, lalu mulai deh ada cahaya-cahaya di kisi2 jendela candi, lalu lama lama byarrrr lampunya terang disorot dr atas berbagai arah. Keren. Dan terbukalah maket Angkor sepenuhnya disorot lampu berbagai arah. Benar-benar dramatis. Pokoke cuma bisa menghela nafas, gila hebat sekali ini negara mau membangun museum secanggih ini. Yang ada merinding dah beneran ni negara hebat.

Keluar dari ruangan ini masih ada beberapa pajangan dari Angkor Watt … juga ada display si legenda lautan kolam susu itu. Dan juga kolam renang beneran ….. hedeh… yang mau berenang boleh dah… risiko ditangkap hahhaaa. Itu kan kolam pajangan gede banget. Kali ada yang mau pose gaya duyung disana.

Yang surprise … Keluarnya dari ruang display terakhir menuju  (idaman kaum wanita dah) …. Toko museum.  Macam-macam yang dijual dan semuanya dalam kemasan apik buat dibawa pulang dan sentuhan artnya bagus sekali.

Nggak asal kaya oleh2 di negara kita kemasannya itu… Bener cakep banget… seandainya Indonesia mau menundukkan kepala dan belajar seni desain kemasan seperti ini, banyak produk kita yang akan melambung. Salah satu koleksi yang heboh adalah Cambodian Silk.

Jangan bayangkan koleksinya sama kaya di pasar Tanah Abang ya, atau di pasar kaget mereka. Yang masuk kesini beneran koleksi top surotop, desainnya bagus nggak norce-norce bergembira, halus dan tidak kalah dengan sutra Thai.

Hebat, padahal beberapa kali beberapa tahun sebelumnya kesini, desain mereka masih biasa saja. Harganya juga bagus, 2 jetong ok dah, sampai 10 jetong juga banyak, wkwkwkww. Yang tadinya gelap mata mau bawa pulang, akhirnya cuma kelalang keliling disitu saja. mau beli gimana, selembar 2 juta, duit disaku palingan 200 ribu ahahahhaa. Kartu kredit lagi dibatasi tidak boleh shopping (tapi tetep da wisata makanan)

Belum lagi koleksi handicraftnya, tas, scarf, aromatherapy, pajangan rumah, bantal, foto koleksi museum dll. Dan banyak desain eksklusif hanya ada di galeri situ.

Berakhir pulang cuma bawa kartu pos satu hahahhaa. Saking bingung semuanya bagus mau beli apa. Niatnya sih mau balik lagi, tapi kelupaan seperti biasa. Toko museumnya bikin betah tidak mau keluar dah. Pokoknya selain toko museum di Louvre Paris, ini salah satu toko museum yang wajib dikelilingi. Eh di toko museum Louvre di Paris itu aku panik beli ini itu, tapi ceritanya nanti ya…

Eh keluar dari museum, jalan keluar malah foto session sama bule Australia. Duh tuh emak-emak heboh mau difoto selfie malah nyaris kecebur kolam. Ya udah aku bantuin motret, daripada dia kecebur kan. Eh malah ngajak ngobrol. Surpraisss doi dengerin aku cerewet pakai Inggris. Wkwkwkw. Eh tiba-tiba dia malahan nyeletuk ngajak bahasa Indonesia. Duh ampunnn. Hahahaa.

Dasar ya… setengah jam di pinggir kolam cuma ngobrol gosip Cambodian, Capitalism,  keadaan di  Australia,  suhu udara yang emang bikin lengket kulit. Jadilah kita selfie-selfie berdua. Tuh bule namanya Ali, nyasar sendirian lepas dari rombongannya karena males masuk museum mahal katanya (duh doi lebih baik beli minuman buat mabok dengan harga yang sama daripada beli tiket katanya hahahhaa). Akhirnya kamipun pisah, dia mau nonton pertunjukan katanya, lupa nanya… tapi yang pasti bukan debus hahhaa.

Habis dadah dadah akupun jalan lagi. Eh rupanya kompleks museum ini jadi satu dengan galeri T. Wow lagi deh. Tapi kalau ini buat cerita lainnya dah ya…

Nah buat yang penasaran, sudah lihat foto koleksi di museum ya… bagus kan …

Yakin habis baca cerita ini banyak yang mau pergi ke Kamboja … hahaha.

It is better to travel well than to arrive 
Buddha

Yang penasaran ke sana, ini alamatnya yaThe Museum Co., Ltd.
No. 968, Vithei Charles de Gaulle, Khrum 6, Phoum Salakanseng,
Khom Svaydangum, Siem Reap District,
Siem Reap Province, Kingdom of Cambodia

 

Jam bukanya adalah :

1 Apr – 30 Sep 08.30 – 18.00
1 Oct – 31 Mar 08.30 – 18.30