Aku itu suka sekali mengumpulkan perlengkapan camping. Entah kenapa … Waktu kecil sering main rumah-rumahan dari kasur dibalik balikin dan buat tenda di halaman rumah. Lalu tamu-tamuan bersama adik adikku dan dikirim masakan dari rumah (tentu saja mamaku yang masak hahhaa). Senang sekali masa kecil bahagia itu. Lalu setelah itu, kegiatan lainnya adalah naik pohon dan buat rumah di atas pohon. Senangnya. Seperti tarzan.
Habis naik nggak bisa turun lagi juga pernah karena pohon jambu airnya ketinggian. Senang sih di atas makan jambu air manis manis. Tapi habis itu nggak bisa turun jadi teriaklah minta diambilin tangga.

Tapi kalau disuruh camping beneran aduh wasalam deh. Pernah satu kali dan sekali kalinya camping di daerah Pelabuhan Ratu sana, ceritanya acara ekskursi biota laut untuk tugas biologi … Wah keren ni pikiran … Cuma setelah sampai, harus bikin tenda beneran yang besar dengan teman teman SMA, kudu masak supermie sendiri, dan masalah terbesar adalah harus buang air dengan perlengkapan seadanya. Waduh ni dia … Sebagai orang biasa bersih semua di wc lalu disuruh camping di pinggir laut dan hutan belantara serta buang air dimana mana itu sungguh siksaan batin.. Yang harus membersihkan diri pakai air laut kayanya udah cukup deh yau… Orang pulang hepi, gue masuk rumah sakit lah kaligata / biduran. Mana selama camping hujan badai, jadilah kita semua pindah ke mess kosong, tidur bergelimpangan disana. Eh waktu bangun di kakiku ada orang gila ikutan tidur pulas. Yang namanya tenda anak-anak entah bentuk seperti apa semua, sdah ambruk semua. Waduh. Itu pengalaman masa SMA. Jadi setelah itu, selama kuliah diajak berkali kali camping maaf deh ya temen2 gue tolak semua. Hehehe.

Eh tapi sekali lagi lainnya pernah kesengsem sama yang namanya gerakan Eco nature gitu loh … Wah itu mah jaman rikiplik kalau gak salah sekitar 2000 an.Back to nature. Itu gara-gara di kelas bahasa Jerman Goethe Institut membahas gerakan kembali ke alam bebas dll. Jadilah dengan semangat 45 langsung berpikir itu pilihan bagus back to nature. Kelas kelas bahasa Eropa kan biasa topik debatnya mengenai ekosistem dan back to nature. Untung bukan FKK di Indonesia hahaha (FKK = Frei Korper Kultur – Aliran Nudisme / telanjang yang sangat biasa di budaya Jerman, tapi haram di Indonesia). Kalau soal yang ini cerita lain nanti ya. Nggak kalah serunya.

Wah pokoknya saat itu, ada mungkin enam bulan semua pola hidupku harus back to nature : sampah recycling dan lainnya, sabun shampoo kudu yang product free animal testing (eh harganya dua kali lipat produk biasa itu) dan macam-macam ide mustajab lainnya.

Sampai terakhir menemukan brosur wisata eksotik back to nature di pulau Gili Air, ada salah satu resort yang semuanya tampak indah di katalog. Sunsetnya keren, dengan rumah rumah ala pedesaan beratap rumbia, makanan terhidang fresh sea food, dengan latar belakang lautan biru pokoknya kaya di Hawaii gitu deh tinggal gak ada gadis gadis menari nari itu aja. Pokoknya idaman deh … Harga? Lumayan pokoknya seminggu berapa ratus dollar gitu.

Langsung dong ya booking pesawat dan booking tempat demi konsep back to nature ala di kelas Jerman.. Book 7 hari dah … Wah liburan yang indah tentunya ya? Kagak juga … 3 hari disana cukuppp wasalam deh ya … Antara konsep back ro nature di buku textbook German sama kenyataan seperti langit dan bumi deh. Booking sih 7 hari, hari ketiga mutung minta balik hihihi.

Pulang dari sana itu asli itu perawatan dokter kulit sebulan untuk memulihkan kulit aku yang ruam ruam gak keruan hahahha. Alhasil biaya dokter kulit bolak balik ke tempatnya, harganya 2x lipat biaya pesawat dan harga penginapan qiqiqi.

Kembali ke acara di resort back to nature. Eh pas dateng itu, gue beneran orang kota dah, bawa koper segede gaban (jaman waktu itu belum kenal caranya travel light dan ngepak sedikit). Nyewa cidomo hahhaha (cidomo itu semacam dokar / delman di Jawa) jadi dari bandara Lombok ke Mataram, lalu nyebrang ke Gili pakai kapal dan nyewa cidomo. Itu perjalanan ke resort back to nature itu ada kali 30 menit menerobos masuk ke dalam hutan, lewat rawa-rawa kering, lalu bekas bekas bangunan tua yang ditinggal pergi penghuninya. Serasa masuk dunia film Ratu Pantai Selatan by Suzanna deh. Mana gak ada orang sepanjang perjalanan jadi beneran sepi cuma berdua sama sang kusir. Pokoknya menerobos masuk makin ke pedalaman hutan. Lainnya hanya suara sepi kadang ada burung bersiul sedikit lalu senyap lagi. Begitu sepanjang perjalanan.

Sampai di resort, wah yang datang sih ya gue rasa orang Indonesia saat itu hanya aku aja sendiri disitu … Lainnya bule Jerman Perancis Inggris dan Jepang semuanya… Mereka dengan bahagianya back to nature.yang punya saja surpriae ada orang Indonesia datang.

Jadi tuh ya ceritanya pengunjung dapat kamar kamar di gubuk gubuk eco … Dari jauh keren sih … Gubuk gubuk romantis ala di film the Beach. Ads dua lantai bisa dapat di bawah atau di atas. Aku kebagian di atas. Semuanya terbuat dari bambu. Pas masuk… Kamarnya hanya cukup tempat tidur satu dan jalan sedikit plus meja. Tuh tempat tidur seprainya dengan motif kain lombok aja udah robek-robek dan lampunya bikin jereng mata. Gelap banget. Hobiku untuk membaca tidak bisa jalan… Dan nyamuknya beneran back to nature super ganas… Waktu aku minta disemprot eh kagak boleh sama petugasnya, karena kimia merusak ekosistem. Bingung juga noh kamar mandinya dimana … Ternyata, terpisah dan ada di tengah taman. Ada beberapa buah berupa lingkaran ditutup bambu dengan bagian atas terbuka…

Kamar mandi … Ya olo ya robi … Ada shower shower di dalamnya, ketutup sih. Atasnya bolong bisa lihat langit. Cuma kalau dari kamar ke kamar mandi harus jalan itu 30 meteran. WCnya terpisah … Untung masih wc duduk di sudut lainnya jalannya lebih jauh 100 meter mah ada. Acaranya rebutan ngantri. Wah pokoknya beneran back to nature, kaya manusia gua aku pikir lama lama. Ada aturan pula mandi dijatah jam sekian. Pertama nggak ngeh tuh buat apa ya kok dijatah jatah. Kalau gak salah jam 6 terakhir boleh mandi deh.

Gue dikasih sabun dan shampoo hand made buatan dari resortnya. Ukurannya kecil, baunya ajaib dah, ya terima saja toh aku kan pendukung back to nature. Sabun shampoo biasa terlarang karena katanya merusak ekosistem dan tanah disitu. Lah bule bule pada ngangguk girang dapat barang eksotik, aku kok merasa terjun ke jaman jahiliyah ya.

Tempat sunsetnya keren kalau liat ke laut, tapi pantainya abrasi … Jadi tuh yang di brosur bisa berbaring menikmati kehangatan sinar matahari tak seindah di brosur. Pantainya dimana, berbaringnya dimana, mungkin harus jalan setengah kilometer untuk menemukan pantai yang bisa dipakai. Yang ada kalau mau berbaring adanya di atas tumpukan kerang yang sudah hancur. Serasa fakir India tidur di tumpukan paku.

Jam 2 sampai di resort, jam 5 sore gue udah mulai stress … Mau berenang gak bisa pantainya abrasi, mau berjemur mikir punggung gue nanti jadi penuh kerang nancep, apalagi ngebalik kepala ngadep bawah, setelah selesai penampakanku bisa kaya korban KDRT. Mau keliling itu di tengah hutan rimba jauh dari peradaban. Harus lewat rawa juga. ini mah judulnya menyiksa diri. Risiko deh tanggung sendiri, yang penting holistik heuristik experience kata temenku yang sekarang jago hipnotis.Gue sendiri kalau baca artikelnya sumpah mati nggak ngerti itu istilah apa ya semuanya beleberan.

Wah semakin malem makin aduhai dan syurrr suasananya. Dua tiga bule itu histeris senangnya lihat malam datang, beautiful beautiful katanya. Lah gue kok kaya kesambet, apanya yang beatiful Cuma gelap gulita di luar, beberapa tempat ada cahaya sedikit pakai obor kecil. Lainnya cuma kedengeran suara debur ombak, suara burung2 sama salak anjing sekali kali. Suara Jangkrik sih ada dimana mana. Bintang di langit sedikit aja redup pula. Lalu bule bule lenyap semua, tiada seorangpun di arena taman. Semua masuk kamar masing masing atau jalan-jalan di hutan. Aku? Disuruh jalan jalan di hutan jam segitu ? No way dah. Aku mah itu mikir indahnya apa ya di kampungku Sukabumi aja kaya begitu. Hahaha. Akhirnya setelah melihat pantai gelap gulita hanua ada cahaya obor satu, balik badan masuk kamar.

Di kamar ternyata lebih seru … penuh hidangan nyamuk dan mata jereng dengan penerangan seadanya. Mau baca buku nggak bisa, lampunya cuma 5 watt… Kacamata waktu itu minus 3, udah dibuka digosok kacanya, mata dideketin ke buku tetep kagak kebaca. Di kamar eksotik itu koperku segede gaban terkapar aja di sudut. Kemana mana itu koperku berat karena bawa buku banyak.Waktu itu ada belum jaman ebook reader di Indonesia. Nggak tau mau diapain beserta isinya novel setumpuk. Sebel juga mikirnya, geret-geret koper berat, naik kapal laut, naik cidomo, jauh jauh dah bayar ratusan dollar ni tempat eksotik kagak, yang ada bentol bentol sama jereng mata. Order makanan disitu, makanan nggak jelas $10-$20 hahahaha. Tetep diorder dah abis gimana laperrr.

Eh ke kamar mandi malam kan keren tuh mandi malam diterangi bulan bintang yang hanya selewat itu (lebih cocoknya digelapi kali ya bukan diterangi)… Jadi gue ceritanya mandilah jam 7.30an kan (lupa tuh ada batas waktu). Udah masuk ni, buka baju dan mulai shampoan ah … Ternyata … Airnya nggak keluar semua. Aduh panik dah …Keran dah gue bolak balik puter kok nggak ada air keluar. Udah buka baju semua udah kepala penuh shampoo … tidakkkk ada airrrr oh mama oh papa waduhhh …

Langsung berjibaku pakai baju dengan kepala penuh shampoo lari ke lobi hahhahahaa… Lobinya adalah salah satu gubuk lainnya yang jaraknya cukup jauh untuk nyari petugasnya. Eh untung ada satu yang stand by. Aku langsung minta air dinyalain. Tau apa jawabannya ? Iya pak kita itu menghemat air karena di kirim dari Lombok jadi emang dimatikan. Makanya ada batasan jam. Jadi tuh air dalam drum drum besar dikirim pake kapal tiap hari. Duhhh… Langsung dah argumentasi abis, dengan kecemasan luar biasa masa harus tidur malam itu dengan rambut belepotan shampoo nggak jelas. Akhirnya, dikasih kebijakan diberi air jatah cuci piring buat besok di dapur seember dan gue cuci rambut yang penuh shampoo back to nature entah ramuan apa itu dengan air seember… Hahaha. It’s such a kind of experience serunya travelling sendiri.

Penderitaan belum berakhir … Balik ke kamar gak bisa tidur … Nyamuknya mana tahan, dipiara kali ama mereka biar ada sensasi digigitin nyamuk. Cuma ada lampu 5 watt dan dikasih lilin, sama panas. Gak ada AC deh kan back to nature. Hanya ada kipas berpusing-pusing di atas kepala. Lalu lama lama kok kepala ini rasanya rambutnya mau trondol makin gatel-gatel … Wah cilaka, ini alergi pasti sama shampoo made in back to nature.

Sampai akhirnya, pagi menjelang senangnya … Begitu pagi datang yang dilakukan adalah … Ke kamar mandi sebelum diduluin bule bule dan Jepang eksotik itu. Mandi dan ke wc giliran paling pagi dah daripada ngantri. Setelah mandi dan sarapan (yang nggak keruan rasanya) tekatku baja, gue kudu ke pelabuhan ini mah.

Jadi tuh dengan sigap aku ke lobi lagi. Aku liat sebagian bule sudah mulai yoga, lainnya menghilang entah kemana mungkin masih menikmati digigiti nyamuk apa mandi kali. Aku minta dianter ke pelabuhan, eh wasalam kagak ada kendaraan, lupa itu di tengah hutan hahahhaa. Pulau itu ya kagak ada boleh motor masuk bener bener peradaban jaman rikiplik dah …Jadi disana itu baru bisa kemana mana kalau ada si cidomo lewat. Dan itu bisa nunggu berjam jam.

Alhasil sebagai petualang sejati, gue minta peta jalan potong menerobos hutan kemana … Responnya cuma Oh ada pak, bapak bisa sampai ke pelabuhan muterin ni pulau. Ha ? Muterin ni pulau? Aduh haleluya ? Gak salah denger ? Iya pak bener bapak jalan kaki menyusuri jalan setapak ini nanti sampai juga kok ke pelabuhan. Dekat kok pak. Dekatnya orang sana jalan 10 kilometer di balik gunung juga tetap dekat. Haduhhh ini mah tugas tambahan namanya … Serasa dah mau pulang jam 4 disuruh lembur sampe jam 7. Daripada gue stroke nunggu si cidomo lewat ya udah deh jalan kaki.

Singkat cerita (kalau mau dipanjangin gue yang stress nulisnya hahaha) sampe deh ke daerah pelabuhan, itu jalan kaki 1 jam kali ada. Entah berapa kilometer gue jalan. Kadang terbirit-birit pula takut ular. Pemandangan ngadep laut sih ok, jadi agak terhibur, tapi ada beberapa daerah yang langsung merinding. Nah kalau itu gue udah speed jogging disitu sembari gak mau lirik kiri kanan.

Akhirnya, sampailah di daerah pelabuhan yang ada deretan resto dan toko. Itu saat itu, menemukan toko, kebahagiaan luar dalem gue disitu. Kayanya menemukan pencerahan duniawi.
Borong langsung deh baygon electric, senter, hits semprotan, lampu 100 watt, sabun lux (adanya itu nggak ada yang lain biarin lah kali setelah mandi pake Lux gue secantik bintang pelem hahaha), shampoo clear, sari puspa apa puspa sari ya ?, kue2, keripik, dlsb pokoknya kayanya 2 kantong plastik dah. Peduli setan dah saat di pikiran gue ajaran back to nature, yang penting ini kepala dengan rambut trondol dan kulit dah gak keruan diselamatkan dahulu.

Lalu habis berbelanja di toko itu, berenang dulu deh di daerah dekat pelabuhannya dan sekalian mencari hotel di situ. Senangnya bisa berenang dan berjemur setelah seharian kemarin di resort eksotik itu hanya berjemur di kamar digigitin nyamuk. Lautnya asik begitu nginjek kaki ke air, banyak bertebaran ikan warna warni dateng. Seru dah.

Setelah berenang aku keliling keliling disitu. Wah ternyata ada banyak hotel yang beradab, reasonable harganya dan air kaga make dijatah jatah… Langsung dah gue book dan kasih uang muka. Ada pizza bakar juga di situ dibakar pakai kayu bakar. Sedap nian rasanya… Makan sampai kenyang juga … Balas dendam setelah disuguhin makanan sehat yang bikin aku kurus kemarin. Wah sedap deh, paling tidak melupakan penderitaan resort eksotik itu.

Abis setengah hari di pelabuhan akhirnya aku perjalanan pulang pake cidomo lagi dah, cuma wanti wanti ke tukang cidomonya pak nanti berhentinya di dekat gubuk derita aku aja ya jangan di lobi. Hahaha modus dong, biar gak ketauan belanja bawa kantong plastik pula, apalagi isinya penuh berbagai peralatan anti back to nature. Nanti kan bisa dihujat sekompleks bule bule gila back to nature itu. Pokoke begitu sampai, aku jalan terbirit birit bawa dua kantong keresek gede dan langsung ngumpetin belanjaan di gubuk eksoktikku qiqiqiq … Udah kaya Blomwood di Shophocholic … Tenang aman sentosa nggak ketauan tuh gue nyelundupin barang sekian banyak hahaha… Apalagi barang barang haram chemical semua.

Mandi sore kali ini aman sentosa sejahtera … Sengaja mangeng mandi jam 4 sudah dibkamar mandi. Selain menyelundupkan bawa sabun lux dan shampoo clear itu, (surga deh rasanya) gue abis abisin tuh air banyak banyak… Pokoknya abis sabunan sekali gue bilas mandi lagi sampe 3 x hahahahaha. Sabun dan shampoo hand made nya sih gue cemplungin buat bersihin sumbat saluran air hahaha. Keluar dari kamar mandi durjana itu rasanya aku bersih sekali seperti bayi yang baru lahir hihihi. Maklum 3x mandi. Sementara bule lain udah gosong dan bentol gak keruan gue kan jadi paling mulus setidaknya hahaha. Nggak mikir juga jatah orang lain airnya aku yang pake.

Lanjut seterusnya adalah acara makan malam deh ya. Dengan muka tak berdosa aku ya ikut ngumpul dengan yang lain … Wah keren dll kan obrolannnya gitu seputar sabun eco, perawatan alam, bagaimana kita sadar ekologi dlsb, gitu sih obrolannya. Untung dibekali ilmu lingkungan di kelas bahasa Jerman. Hahahaa jadi serasa pakar dah ngomong sama bule bule itu. Kaya di buku buku deh. Dalam hati sih ngomongnya beda, besok gue pindah dari neraka dunia ini deh hahaha.

Nah malam kedua ni asik balas dendam gue. Pintu jendela gue tutup rapat gue pasang tuh lampu 100 watt biar bisa baca… Hore akhirnyaaaa … Terang benderang. Baca novel tercapai. Tuh ya peternakan nyamuk … Maap ya gue semprot abis tuh kamar kiri kanan depan belakang kolong tempat tidur semuanyaaaa. Kali ownernya kaget tuh peternakan nyamuk di gubuknya kok terkapar semua. Bodo deh. Maap ya drpd gue yg kejang kejang gak bisa tidur gatel gatel mendingan gue yang menyeimbangkan ekosistem. Lalu si elektrik gue pasang juga… Plus gue beli dupa / hio buat aromaterapi. Rada rada bau mistis sih hahahah, gue pikir tuh bule mikirnya apa ya tiba tiba menyeruak wewangian frangipani… Lalu mulai deh ritual baca novel, ngunyah segala keripik, minum coca cola (setelah 2 hari dijejelin juice rumput laut, dan sejenisnya)

Hari berikutnya dengan puas hati mengucapkan selamat berpisah deh sama si back to nature resort. Aku pindah ke dunia yang lebih cocok … Dekat pantai yang bisa berenang, dekat toko dan restoran sehingga bisa bolak balik order pizza. Empat hari di situ cukup mengembalikan semangat dah. Namun pulangnya masih ada kelanjutan rupanya … Kulit mengelupas, perih dan beberapa bagian masih tetap gatal. Ya berakhir di dokter kulit 3 x terapi jumlah totalnya sama dengan jumlah booking resort eco dan penerbangan hahahaha.

Untungnya beres itu kulit. Nah setelah kejadian resort eksotik itu dah stop back to nature back to naturan… Mendingan back to city lah …