Choir dadakan – Berliner Doom, Jerman  1998

Saat itu perjalananku bermula dari Frankfurt, lalu beranjak ke bawah Ke arah Muenchen, lalu zig zag kembali ke atas ke arah Berlin. Ya perjalanan kali itu, memang diniatkan mengunjungi kota-kota besar di Jerman, karena sangat penasaran dengan keadaan disana. Berkunjung ke Jerman itu memang salah satu impianku.

Ini gara-gara terinspirasi dengan kelas bahasa Jermanku.

Waktu les bahasa Jerman di Goethe Institute Jakarta sekitar tahun 1995–2000, yang dipelajari tentu saja keadaan Jerman, baik budayanya, kotanya, perilaku penduduknya, perbedaan dialek antar daerah, lagu-lagu dan berbagai macam hal lainnya. Ada juga hal yang tidak biasa disini saat itu, yaitu FKK alias nudist. Itu sampai seru sekali dibahas di kelas-kelas, karena kami juga harus membuat perbandingannya di Indonesia, dari berbagai segi. Hal lain seperti zusammen leben (hidup bersama) juga menjadi topik hangat di masa itu. Topik lainnya yang juga panas adalah Hochzeit (perkawinan), Regeln (hukum), Religion (agama), dan Kesadaran lingkungan.

Selain itu, di kelas bahasa Jerman, aku juga belajar logika, dan struktur alur berpikir. Hal ini mungkin yang tidak pernah kita dapat di sekolah Indonesia. Nah pantas saja orang-orang Jerman analisanya sangat mendalam dan bisa sangat expert di bidang tertentu. Tidak ada yang namanya asal komentar dengan cocokologi seperti disini. Hihihih. Semua harus berlandaskan fakta dan bukti serta hasil penelitian. Kalau tidak ya wasalam, makanya banyak calon mahasiswa Indonesia disana yang gagal karena tidak berbiasa juga dengan pola berpikir seperti ini. Wah sangat menarik sekali dan saat itu aku jatuh cinta dengan Jerman.

Temanku saat itu untuk belajar getol adalah Dwiyana orang Siemens, sekarang entah dimana dia adanya. Jaman itu,semua berbau Jerman pokoknya dilalap habis bacaannya. Internet masih sangat jarang walau sudah ada, jadi kebanyakan kita meminjam buku dan video dari perpustakaan Jerman.

Wah terkagum-kagum habis sama yang namanya penguasaan teknologi mereka. Kota-kotanya sangat bersih, modern dan sebagian tampaknya tidak terbayangkan ada di Indonesia. Lalu yang juga menarik adalah peninggalan-peningglaan bersejarahnya itu, terutama museumnya. Wah itu memang top sekali.

Belajar Jerman itu, kebelit di artikel der das die dengan bermacam posisi akusativ, dativ, genitiv dan lainnya. Sampe bludrek ngafalinnya. Untung bisa hafal. Itu semua benda bisa dikasih gelar cewe, cowo atau netral gimana ceritanya ya jaman baheula. Tapi lama lama itu bisa fasih keluar. Senangnya. Entah jaman sekarang, apakah sudah ada jenis kelamin transgender untuk artikel bahasa German.

Eh moody lho, kalau lagi belajar Mandarin ya tiba-tiba cinta segala macam bau Cina hahahaha. Waktu giliran les bahasa Jepang sebelumnya, karena akan dikirim ke Jepang ya kalang kabutlah menyerap segala per-Jepang-an, kalau tidak salah era cinta segala rupa tentang Jepang itu sudah sejak tahun 1985–1986 !!!

Makanya kalau orang baru hips lagi sekarang ini ke Jepang, aku sejak jaman itu sudah Jepang-jepangan. Mandarin bubar jalan, gurunya hamil pulang ke Peking, tidak ada pengganti selama setahun dan akhirnya tidak lanjut sampai sekarang. Jepangnya tidak terus walau sudah intermediate karena jadwal kursusnya tabrakan dengan jadwal kuliah. Kuliah di Depok sementara les Jepang di Kartini Pasar Baru sudahlah ya, good bye …

Balik berkunjung ke Jerman. Nah tentunya dengan semangat 45, aku mengumpulkan uang selama 3 tahun untuk bisa berkeliling Eropa. Dan pada akhirnya cita-cita terlaksana, dan aku bisa berkeliling beberapa tempat di Eropa selama 21 hari. Pilihannya ? Hmmm tiada lain tiada bukan ya si Jerman itu, plus Perancis tentunya. Dan Belanda.

Salah satu perjalanan yang berkesan adalah perjalanan seorang diri ke ibukota Jerman yang baru Berlin. Mengapa disebut baru ? Karena waktu Jeman beberapa waktu sebelumnya baru bergabung kembali antara Jerman Barat dan Jerman Timur. Sehingga ibukotanya digabungkan dan menjadi Berlin.

Di tengah-tengah kota Berlin ini, dahulu kala dibagi dua bagian, Berlin Barat dan Berlin Timur. Berlin Barat mewakili pemerintah Jerman Barat dan Berlin Timur mewakili pemerintahan Jerman Timur. Aneh ya… Ya tapi begitulah kenyataannya. Dan orang yang berlari menyebrangi kedua sisi itu bisa ditembak mati !

Hiii… Kebayang kan kalau kita di Indonesia misalnya Jakarta seperti itu? Seperti apa rasanya ya ? Mau nyebrang ke Jakarta Barat misalnya tidak bisa karena bukan warganya. Haduh … Untung tidak kejadian disini. Ada disini juga tawuran antar kampung di Matraman seberang jalan. Haha.

Perjalanan pertama ke berbagai negara Eropa ini banyak membuahkan kesan. Di Jerman, ada beberapa tempat yang aku kunjungi. Khusus di Berlin, salah satunya adalah Berliner Dom. Gedung ini berdiri dari sejak awal abad 19, dan kemudian sebagian hancur karena Perang, lalu dibangun kembali… Baru dibuka kembali sekitar 1993. Arsitekturnya menggambarkan gaya neo Gothic, yang dipenuhi dengan berbagai ukiran rumit dan detail. Walau demikian jauh lebih sederhana dibandingkan bangunan pertamanya.

Senang sekali berada disini, setelah beberapa saat mengelilingi bagian dalamnya, akupun duduk di salah satu bangku dengan posisi di tengah-tengah persis menghadap altar. Ya lah kan ceritanya mau mengambil foto di tengah. Lalu mulailah memotret, kiri, kanan, atas, depan, belakang… dan merenung, bagus ya, bagus ya. Ternganga-nganga melihat arsitekturnya. Sangat berbeda dengan gereja-gereja di wilayah Eropa lainnya.

Waktupun bergulir dengan cepat, saking terpesonanya aku dengan keindahan di dalamnya, lupa sekitar deh. Mungkin sekalian aku tertidur karena suasananya tenang dan nyaman. Entah berapa lama. Yang pasti, beberapa saat kemudian akupun terbangun dan kembali melihat-lihat ke depan atas. Masih takjub dengan arsitekturnya.

Di tengah-tengah duduk duduk memandangi keindahan kubahnya dan ukiran lainnya, lalu kok makin lama, kiri kanan tempat aku duduk, kok makin penuh. Iiii similikiti … Menengok kiri kanan ke belakang… Ya ampun, orang-orang kok makin banyak. Dan padatlah itu gereja.

Wah seru juga ni, aku pikir itu para turis seperti diriku sedang melihat-lihat. Asik banyak teman. Lalu mulailah salah seorang mulai membagikan kertas yang berisikan tulisan-tulisan Jerman.

Eh wasalam … Di depan, entah darimana datangnya, aku tidak memperhatikan, ada seseorang mulai berbicara di depan mimbar dengan bahasa Jerman yang sangat cepat. Waduh aku pikir, apa mau tutup ya disuruh pulang. Rupanya dia pastur disitu. Tapi mau keluar kok susah di kiri kanan ada orang. Lalu suara orgel gereja mulai berkumandang. Wah keren… Lupa deh, aku malah mendengar orgelnya saja. Seru kan kapan lagi dipikir denger konser musik klasik orgel gratis. Itu yang ditunggu.

Selagi terpesona dengan suara orgelnya itu, dan celingukan mencari pemainnya ada di sebelah mana, orang-orang mulai bangkit berdiri. Wah asik ni bisa pulang. Akupun ikut bangkit. Niatnya mau balik badan. Tapi kok sebelah-sebelah aku tidak bergerak ke arah pintu ya, sementara aku sudah bolak balik badan mau keluar dari barisan tempat duduk. Eh tahunya mereka mulai membuka kertas yang dibagikan dan bernyanyi …

Waduh daripada aku Entschuldigen Entschuldigen (permisi) sama mereka, ya sudah akupun ikut buka kertas. Waladalah ternyata isinya lagu-lagu rohani. Hahahhahahaa. Rupanya mereka sedang kebaktian. Waduh mau duduk malu nanti aneh sendiri, mau keluar tidak bisa. Ya sudah menyerahhhhh. Akupun ikut menyanyi hahahhaa.

Jadi entah berapa lama akupun ikut menyanyi bersama dengan umat yang kukira turis itu dalam bahasa Jerman, walaupun tidak terlalu paham semua artinya, mungkin karena telingaku sudah terlatih dengan nada, jadi ya nebak-nebak saja itu nyanyiannya kemana. Sementara kiri kanan bersemangat menyanyi, aku bernyanyi dan menyanyi sebisanya, kalau rasanya nadaku melenceng aku pelanin hihihi, kalau pas, ya ikut keras-keras. Lumejen, kursus bahasa Jerman sistem immersion gratis. Hahaha. Ada beberapa kali harus duduk dan berdiri, kalau sebelah berdoa, aku ikutan, daripada nanti salah toh beda sendiri, entah doanya apa. Akupun membuat doaku sendiri, kalau tidak salah “Ya Jesus, hilfe hilfe (tolong tolong), kapan aku bisa keluar dari sini.”

Situasinya mirip film Mr Bean. Kalau tidak tahu lagunya aku mangap-mangap saja supaya kelihatan bernyanyi. Di sebelah kiriku ibu-ibu tua Frau / mevrouw tersenyam senyum melihatku dan sangat bersemangat bernyanyi, aku manggut-manggut saja kalau bertatapan dengan dia dan memasang wajah tidak berdosa. Di kananku ada seorang bapak-bapak tinggi botak berkacamata. Dia tampak serius dengan bacaan lagunya.

Si mevrouw bertanya,“Woher kommen Sie?” Jawabku, “Aus Indonesia ”, dia mengangguk-angguk, lalu diapun melanjutkan menyanyi dengan hebohnya. Akupun ikut mengangguk-anggukan kepala dan bernyanyi. Daripada salah gaya kan. Kulirik Herr botak sebelahku, kok dia lempeng-lempeng aja menyanyinya. Serius bener. Serasa aku live show ikut German Talent Show. Hihihi.

Jadi walaupun senang bercampur menahan tawa karena geli dengan situasinya, aku ikuti sampai acara menyanyi bagian pertama selesai. Sampai akhir ada jeda lama, dan akupun cepat-cepat Entschuldigen (permisi) sama oma-oma itu, aku bilang kebelet mau ke wc, dia dadah dadah saja sama aku, akupun ngabur dengan kecepatan tinggi ke pintu ahahahaa. Melewati beberapa orang lainnya di deretan bangku tersebut. Terserah deh dilihat pengunjung lain. Panik juga kalau terus ikut selama 2–3 jam hanya ikut acara kebaktiannya.

Akhirnya… bisa keluar dari Berlin Doom…
Haduh…pengalaman berkesan itu, ikut kebaktian di negara orang tanpa disengaja, hanya gara-gara melihat-lihat gereja keasikan. Dari situ membuka mata juga sih wah bisa menarik juga mengikuti aneka ibadah lain.

Pengalaman semacam terjadi lagi saat aku terjebak di salah satu gereja di Barcelona,namun kali itu aku terjebak di tengah rombongan pengantin dan berakhir ikut iringan pengantin, hanya karena penasaran mendengar lagu Bach di orgel. Hahaha. Kalau yang ini harus ditulis di cerita lainnya.
Sampai jumpa.