Ada banyak hal unik yang bisa kita temui selama perjalanan ke Jepang selain memang alamnya yang indah.
Berikut ini adalah hasil pengamatan saya selama berada di Jepang
1. Jalan kaki dan beda arah. Ini bisa bikin kita bingung… Orang Jepang kebanyakan berjalan di sebelah kiri, tapi di beberapa lokasi mereka akan berjalan di sebelah kanan. Jadi hati-hati menentukan kita berjalan di sebelah mana. Cara paling mudah ikuti arus orang berjalan di depan kita. Di dalam situasi yang ramai seperti di stasiun kereta api, penyebrangan jalan dan tempat keramaian lainnya jangan coba coba melawan arah… Anda bisa kebingungan sendiri.
2. Wc otomatis dimana mana. Orang Indonesia yang terbiasa dengan wc biasa mungkin akan terkejut dengan berbagai wc di sana. Ada yang membuka sendiri tutup klosetnya ketika pintu masuk ke wc dibuka. Belum lagi berbagai tombol yang tersedia di setiap wc berbeda. Bikin pusing di kepala. Cari tombol buat spray aja bisa 10 menit hahahaa mana nggak pakai bahasa Inggris. Kondisi wcnya superbbbbbb … Bersih kinclong. Beberapa wc ada yang pakai penghangat dudukannya. Dan juga musik suara flush …
3. Bersih super clean dan minimalis. Kemanapun anda berjalan di pertokoan, di stasiun, di airport, di perumahan di jalan jalan setapak hal yang paling jelas terlihat di Jepang adalah kebersihan yang top nomor satu. Singapore sudah terkenal dengan kebersihannya, tapi kalau di Jepang itu super bersih … Herannya lagi sangat susah menemukan tempat sampah di ruang-ruang publik. Sudah budayanya mereka sejak kecil sudah harus membuang sampah di tempatnya. Walau pilihan barang berjuta-juta pilihan, namun rumah di Jepang terkesan minimalis kosong tanpa terlalu banyak barang. Hebat… Suatu PR tersendiri buat diriku membersihkan isi rumah …
4. Sopan santun, ramah dan beretika, semuanya teratur. Ucapan Sumimasen, Gomenasai, Arigato, Dozo, Domo itu bertebaran dimanapun … Anak anak sekolah melewati diriku di tangga itu bisa berkali kali bilang Sumimasen..: hebatttt … Membungkukkan badan untuk menghormati orang itu suatu hal yang bisa bikin geleng kepala berkali kali bagi kita yang tidak biasa. Hanya informasi kecilpun yang diterimapun mereka bilang terima kasih, apalagi kalau mereka menerima gift dari kita. Senang telinga rasanya mendengarnya setelah kebal di Indonesia melihat banyak orang tidak tahu berterima kasih dan sopan santun.
5. Customer is a King. Waduh belanja apapun dimanapun itu senyuman, gesture tubuh yang menghormati kita, keceriaan dan terima kasih sudah membeli dagangannya membuat kita semakin bersemangat membeli dan membeli lagi. Yang tadinya mau beli satu jadi lima. Situasi yang jarang ditemui di Indonesia.
Suatu kali membeli aksesories musik di Yamaha Ginza, stok barang tidak ada, otomatis salesnya cek inventory, minta kita menunggu, dia menghubungi pabrik minta dikirim barang secepatnya dan voilaaaa… Kembali ke saya bilang dalam 4 hari barang dikirim dan siap dijemput … Hebat hebat… Lalu saya diberi semacam tanda terima pemesanan barang untuk pengambilan barang …. Setelah selesai diantar ke pintu seraya membungkukkan badan berkali kali terima kasih terima kasih. Itu level customer service tingkat dewa.
Kejadian sama berulang di Ittoya tempat stationeries di Ginza dan Tokyu Hands di Shibuya, juga di restoran di daerah Gotanda, serta berbelanja di supermarket daerah Odaiba. Berarti budaya melayani itu bukan hanya di satu perusahaan saja. Tapi memang sudah akar budaya sananya yang patut kita pelajari dan terapkan di sini.
6. Mandiri. Ini emejing … Melihat anak kecil umur 7 tahun pergi ke sekolah sendiri naik mrt sendiri dengan jalurnya yang ruwet, sementara dia cuek saja baca buku sembari menunggu kereta. Kebayang anak anak seusia yang sama disini masih gandulan sama ibunya buat ditemenin tidur. Belum lagi kalau jejeritan rewel nggak jelas. Ini pergi sekolah sendiri umur segitu bikin aku geleng geleng kepala … Waduh … Itu pola disiplin mereka mendidik anak bisa kita pelajari dan tiru.
7. Musikal dan nyaris tidak ada polusi suara. Kemanapun berjalan dimanapun pasti ada lagu, atau musik instrumental. Bahkan di pertokoan pertokoan kelas atas itu sayup-sayup terdengar musik klasik yang bukan biasa biasa, concerto Mozart, Haydn, Bach, bertebaran. Belum lagi di restoran dan toko buku lagunya jazz dari mulai standard jazz, sampai ke komponis jazz mereka sendiri. Hebatnya tidak ada suara yang berdentum dentum gila gilaan kerasnya dan saling bersautan… Semuanya hanya di level telinga kita mendengar biasa saja sebagai latar dari suatu suasana atau tempat. Sangat menenangkan jiwa. Dangdutan dipol sampe dinding bergetar, suara azan 4 mesjid bersamaan dengan speaker pecah yang dimaksimumkan, lalu pengumuman rt rw lewat speaker di tengah hari siang bolong dekat rumah, tiba-tiba digantikan kesenyapan dan level kebisingan yang sangat rendah, benar-benar surga rasanya.
Di stasiun kereta,tiap stasiun mempunyai kode alat musik glockenspiel yang berbeda beda, senang sekali mendengarnya, dan tidak ada pengeras suara berlebihan sampah pecah speakernya seperti di bandara ataupun stasiun sini. Benar benar sedap untuk telinga …
Begitu sampai di bandara Suta kayanya langsung sutrisna jaja miharja beda jauh langit dan bumi wkwk. Plus ditambah nano nano orang seliweran gak jelas, calo, copet, supir, dan ribuan penumpang yang saling jerit-jerit dan berhalo-halo pakai hp. Selamat datang ke Jakarta. 😀