JOURNALING – LIFE HISTORY
Otak kita bagaikan mesin pengumpul sampah raksasa, tidak bisa membedakan mana yang positif dan negatif, semua tercampur aduk kacau balau dalam bank ingatan kita. Bayangkan jika otak anda seperti Harddisk dengan isi jutaan keping informasi yang bersifat acak. Pada saat teman ingin mendownload suatu data, bingung karena ada dimana ya ?
Jutaan informasi yang kita terima setiap hari diserap langsung oleh otak baik sadar maupun tidak sadar. Semuanya masuk ke dalam bank data kita menunggu kita proses.
Hal itu terjadi dalam bank ingatan, persepsi, sensasi dan perasaan kita. Semakin kita melemparkan semua ingatan kita tanpa mengaturnya dengan baik, semakin sulit bagi kita untuk menggali dan mencari respon yang tepat untuk suatu hal. Karena itu, penting sekali untuk kita menyeimbangkannya dengan membuat pengelompokan.
Journaling membantu kita untuk mengatur dan membersihkan tumpukan data baik sampah ataupun bukan, yang ada di dalam otak kita. Bank data ingatan kita 2 tahun lalu, 3 minggu lalu, akan mudah diingat kembali jika kita mempunyai catatan. Lebih mudah bagi kita membuka journal dan melihat, 11 November 2011 aku kemana ya, daripada hanya mengandalkan ingatan acak.
Dulu merasa down karena ditinggal pasangan selingkuh, mungkin jika teman recek kembali saat ini, limpahan perasaan yang menggunung itu, sekarang hanya berupa : ya sudahlah untung gue putus sama, jadi dapet yang lebih oc … Hahaha. Tas yang dulu kita inginkan setengah mati, kita cek lagi perasaan kita di journal kita, lah malah sekarang nggak ada rasanya menggebu-gebu seperti dulu, karena ada tas yang lebih baru. Ayo ngaku deh. Kamera keren yang dulu kita cita-citakan sampe ngimpi-ngimpi, 5 tahun kemudian kok nggak apa-apanya ya, jadi perlu yang lebih baru. Hahaha. Begitulah berulang. Itulah kehidupan. Itulah benak kita bermain dengan ilusi.
Tanpa adanya journal itu, kita tidak bisa memahami aliran perasaan kemelekatan kita kemana bergeraknya. Dengan journaling teman akan lebih mudah mengecek : oh masalah dulu itu ternyata hanya sekian ya, kok ya bego amat gue bisa terjebak.
Untuk itu kita perlu membersihkan isi otak secara berkala, salah satunya dengan kegiatan menulis dan menumpahkan semua isi otak kita hari itu ke dalam tulisan.
Belilah buku agenda / diary / journal yang sesuai… Di Indonesia kadang agenda ya agenda titik. Tidak ada ratusan macam seperti di luar negeri. Coba cari dan belilah dua agenda, satu untuk menulis kegiatan kita, dan satu untuk menulis pikiran dan perasaan kita. Saat ini aku akan membahas journal yang tipe kedua ya. Belilah journal dengan kualitas kertas yang baik dan format yang ok … Namanya kan buat catatan hidup kita. Sejarah hidup kita. Jadi jangan dikasih buku jelek yang robek-robek ya. Itu artinya teman tidak menghargai kehidupan teman sendiri.
Aku menggunakan Hobonichi Agenda dari Jepang untuk menulis semua yang ada di kepala. Kenapa aku memilih itu. Karena bentuknya ringkas dan juga kualitas kertasnya bagus. Memang agak mahal, cuma kalau ini selera ya hahaha. Bisa order langsung via online tanpa harus berkunjung ke Jepang.
Terserah kita mau menulis apa, mau bikin ringkasan pendek kejadian sehari-hari, mau curhat oh mama oh papa berlembar/lembar disertai deraian air mata, mau kejam tuh journal ditulisin aku benci aku benci aku benci, boleh gak ada yang melarang … Mau geli geli basah (kesiram kopi maksudnya hahaha) bikin journal hahahihi bisa juga kok.
Pada intinya journal merupakan sahabat kita paling setia dan paling bisa menerima semua unek unek kita.
Ada beberapa tahapan dalam menulis journal. Berikut adalah yang paling dasar bagi mereka yang tidak terbiasa menulis.
1. Coba lah menulis. Biasanya aku waktu terbaik adalah malam hari. Yang bingung menulis tulis saja dulu : jam 5 bangun, jam 6 pergi ngantor, dst.
2. Lalu coba ingat kembali ada kejadian apa hari itu yang unik dan perasaan apa yang menyertai. APAPUN. Mau negatif mau positif itu adalah WAJAR dan merupakan bagian dari diri kita.
Tulis semua jejak ingatan tersebut atau kalau bisa bikin bentuk ilustrasi gambar seperti komik.
3. Jangan terlewat satu hari juga ya, coba deh selama tiga minggu. Lalu setiap minggu buka di weekend. Pasti kita surprise dengan apa yang sudah kita tulis. Selain itu rasanya beban di otak kita akan berkurang.
Journaling bukan hanya untuk wanita. Priapun bisa mendapatkan banyak manfaat. Banyak kok kepala negara dan orang terkenal yang terbiasa menulis journal. Coba deh googling. Journal juga bisa dipakai untuk mempertajam kemampuan kita menganalisis situasi, perencanaan, pembuatan keputusan, dan ratusan tujuan lainnya. Jadi tergantung teman mau dipakai apa journal tersebut. Tapi untuk yang satu ini, selalu masukkan PIKIRAN DAN PERASAAN YANG DIALAMI.
Dengan menggunakan sistem journal harian ini, tumpukan informasi yang bersifat acak di otak kita, akan dibantu untuk lebih terorganisir. Kita akan lebih mudah mengecek ulang dan melihat, dulu saya melakukan apa ya, keputusan yang diambil dan lainnya. Kerja otak menjadi lebih mudah dan terstruktur.
Catatan perjalanan juga bisa kita masukkan ke dalamnya. Kita jalan kemana, melihat apa, membeli apa, makan apa, sensasinya bagaimana dan lain sebagainya. Suatu saat jika kita ingin mngenang perjalanan kita, tinggal buka deh. Maka melody memory akan keluar semua.
Mengapa aku tidak menyarankan menggunakan apps. Ya betul, dengan kemajuan teknologi journal apps bertebaran. Tapi proses mental luhur di kepala kita akan berbeda jika kita menulis di atas kertas dan menggunakan jempol di layar smartphone. Coba deh… Sensasinya akan sangat berbeda, dan jauh lebih berkesan dengan menulis. Menulis dengan tangan memerlukan koordinasi sensor motorik halus, sensasi, imaginasi dan otak.
Dengan menulis kita bisa mencoret, menghapus, memberi gambar dlsb yang memerlukan sisi kreatifitas kita. Dengan apps ok, cuma yang tidak ada nuansa sentuhan emosi yang terbangun. Coba deh teman buka buku-buku lama yang berisi coretan kita, langsung kita bisa merasakan perasaan yang terkait dan muncul gambaran ingatan tersebut.
Kenapa tidak cukup hanya dengan memotret ? Kembali pada jawaban di atas. Pegang foto atau lihat foto teman di sosial media, apakah ada emosi / perasaan yang muncul? Rasanya akan lebih banyak bersifat netral. Tapi jika teman menuliskan perasaan yg berkaitan dengan foto itu di satu buku dan membaca ulang seraya memegang kertasnya, saat itulah emosi perasaan kita akan keluar. Lucu ya. Tapi itulah memang kelebihan menulis.
Jadi mulailah menulis journal. Mulai dari sekarang.

Hobonichi Techo
Filofax - Filing Binder
Filofax plus Japanese Paper