Dimulai sejak SD, bertemu dengan teman-teman yang rata-rata kutu buku, akhirnya aku jatuh cinta dengan pelajaran bahasa. Sastra apalagi, senang rasanya bisa membaca berbagai kisah menarik seperti Siti Nurbaya, Katak Hendak Jadi Lembu dan sebagainya.

Tatabahasa ? Hmmm wasalam, di SD pelajaran Bahasa Indonesia selalu dapat 5 hahahaha, karena bingung dengan urutan MD DM (Menerangkan Diterangkan / Diterangkan Menerangkan). Mungkin saat itu pemahamanku belumlah sampai untuk mengerti bahan yang terlalu abstrak. Eh ternyata nantinya itu justru kunci untuk mempelajari struktur berbagai bahasa di dunia.

Selain itu ada juga pelajaran bahasa Sunda, karena aku sekolah di Bandung. Ngaku deh sekarang, itu PRnya nilai mengarangnya 9 semua, dibuatin sama tanteku Bi Yeni yang meninggal karena kanker (I miss you), hahaha. Habis kan lieur (pusing) harus membedakan bahasa Sunda dalam 3 tingkatan, kasar, sedang dan halus untuk orangtua. Bacaan majalahnya dulu adalah Mangle. Khusus bahasa Sunda. Jadul dah.

Eh gosip dikit, bi Yeni itu selama ngajar aku pacaran sama anak kos di rumah, hihihih, aku suka ngintip mereka pacaran, kalau sudah dekat-dekat posisinya, lalu aku lemparin apa deh, kadang kertas, kadang sandal jepit swallow, hahahahhaa. Merusak suasana. Kalau pacaran duduknya dempetan dekat pintu dapur, qiqiqiq. Eh tapi, jadi lho mereka menikah, sampai anaknya 3 pula. Memang cinta tidak kemana.

Perkenalan bahasa selanjutnya adalah di SMP dimana harus sekaligus mempelajari 4 bahasa. Sunda, Bahasa Indonesia, Inggris, Jerman. Semakin gegar otak akunya. Tahun pertama di SMP, rata nilainya 5,6 hahahhaa. Tercampur aduk semua di kepala. Apalagi ada pelajaran menulis huruf Sunda yang seperti huruf Jawa : Hanacaraka Datasawala Padajayanya. Hedehhhh, ini makin terjun bebas acara menulis ini. Untung cuma sebentar ya si huruf paririmbon itu (paririmbon – buku untuk meramal dan menentukan hari baik).

Tapi untungnya di kelas Inggris dan Jerman, gurunya asik. Saat itulah pikiranku terbuka dan wawasanku diperluas, dengan mendengar bunyi glagak gluguk, was wish wush kok orang bisa mengerti ya. Kelas Inggris terpaksa ambil pelajaran tambahan di rumah tetangga sebelah, Tante Hetty dan anaknya Mila. Aku senang les dengan dia karena mengajarnya asik. Selain itu ada iming-imingnya, Sup Susis …. hahahaha jadi dah semangat les. Tidak les juga, datang saja main sama Mila, siapa tahu disuguhin sup susis. Mila juga punya koleksi buku bacaan Inggris banyak sekali jadi aku suka belajar sama dia. Selain itu kami juga suka loncat-loncat di kasur tinggi-tinggian. Anggapannya saat itu, kalau sudah makan sup susis lalu loncat-loncat di kasur, kan nanti dikocok di perut jadi makin tinggi eh badannya. Ternyata tinggian Mila, sedih deh. Tampaknya loncatan dia di atas kasur, sambil mengocok perutnya lebih efektif daripada diriku.

Karena bertetangga, kami juga suka saling main spy-spyan (mata-mata). Karena mata-mata, maka aku dan dia menciptakan berbagai kode rahasia untuk saling kontak. Hancur mina dah. Dari mulai membuat tulisan rahasia, sampai tulisan tidak terlihat, sampai akses pintu rahasia lengkap semua. Isi surat rahasianya “Eh nanti main sepeda jam 3 ya”, atau “minjem buku Heidy ya”. Kalau kodenya harta karun nah saatnya makan sup susis, atau aku yang bawa makanan. Hahaha. Paling top adalah pintu rahasia untuk pergi les Inggris.

Lewat mana ? Lewat genteng belakang rumah karena bersambung dengan rumah dia. Jadilah aku meloncat genteng dari belakang rumahku ke rumah dia, karena sebagai agen rahasia. Di bagian rumah dia ada tower penampungan air yang bisa dipanjat, dan dekat dengan genteng rumahku. Tapi satu kali apes, pas aku dan saudaraku, Genta mengendap-endap di atas atap, itu langit-langitnya jebol karena tidak kuat menahan berat kita berdua. Jatuhlah ke bawah dan luka-luka. Ya sudah dimarahi nenek, tapi tetap saja main spy-spyan ke rumah Mila lewat genteng itu. Ada juga Bambang tetangga sebelah lainnya, Novi, Ninien, Ade, Uki, Utari, Tigor, Dede, Hendro, Hansen dll tapi itu cerita lainnya ya.

Di kelas bahasa Jerman di SMP, itu pelajaran sungguh pusing kepala, sudah sehari-hari bahasa Indonesia, dijejali saat itu harus berbahasa Jerman di kelas, kalau tidak bisa dihukum dah. Waduh keringetan sekali. Buku yang dipakai adalah Themen 1, 2, 3. Cukup berat deh untuk ukuran anak-anak.. Itu ternyata buku yang sama dipakai di Goethe Institut, dan kebanyakan siswanya adalah mahasiswa yang akan belajar di Jerman. Nah jadi terbayang bahan pelajarannya kan. Dengan bahasa gluguk gluguk yang aneh didengar itu, kami harus bicara satu sama lain.

Untungnya gurunya menjelaskan Jerman dengan indah. Memang guru itu penting, guru yang berkualitas akan membuat kita memilki dasar yang sangat kuat. Dari mulai yang nilainya berantakan, sampai tibalah salah satu saat tes ulangan umum yang mendebarkan. Saatnya diumumkan semua anak menanti dengan tegang. Aku sih sudah cuek saja, tak pikir alah palingan juga 6, kan banyak yang lebih pintar. Eh keajaiban dunia yang dipanggil pertama aku dan mendapat nilai 10. Perfect score untuk pelajaran bahasa yang ajaib. Saat itu Pak Nengah Malaya memanggilku dan menepuk pundakku, seraya berkata bahwa satu saat aku pasti bisa menguasai bahasa Jerman. Saat itulah saat berkesan yang memacu diriku menguasai bahasa. Dan sejak saat itu semua nilai bahasa aku menetap di angka 9 ke atas.

SMA pindah ke Sukabumi dan mendapatkan kualitas pelajaran yang jauh di bawah Bandung. Guru bahasa Inggrisnya selama 3 tahun pengajaran hanya mengajarkan positif, negatif, pertanyaan, gerund, present, past. Titik. Duh itu periode jaman kegelapan bagi pelajaran bahasaku. Ada satu tahun periode gurunya kerasukan kali, karena kehabisan bahan kami hanya diajarkan lagu My Bonnie.

My Bonnie, My Bonnie 7 turunan sampai telinga budek itu lagi itu lagi, eh ujian masa disuruh nyanyi itu. Padahal saat itu kan ada Koes Plus, Rhoma Irama dan lainnya, Penyanyi luar saat itu Diana Ross, Michael Jackson dll. Ini kok My Bonnie.

Jadi karena di Bandung sudah tinggi semua pelajarannya, aku banyak bolos saja, baca Kho Ping Hoo (penulis buku silat yang bukunya ratusan seri) hahahhaa. Ibuku sih tidak marah hanya pesan awas nilai kamu jangan ada yang 6 ya. Eh malah dia yang rajin menulis surat permohonan ijin tidak masuk. Hahahaha. Cs dah mamahku itu. Ya … Untungnya selalu kebanyakan di atas 7 atau 8. Jadi saat itu kosa kataku adalah kosa kata Kho Ping Hoo hahahaha. Atau main ke rumah Titis dan ngerujak disana, ada Mulyani, Feri, Lukas. Cerita lainnya untuk yang ini ya.

Beranjak kuliah di UI, yang secara kebetulan juga masuk, semester pertama dan kedua disodori buku-buku textbook setebal bantal. Introduction to Psychology bisa sampai 1.000 halaman. Belum yang lainnya. Pertama panik juga, lama-lama ya makanan sehari-hari. Satu mata kuliah dengan 3-4 texbook yang berbeda dalam Inggris adalah menjadi bacaan wajib. Jadi otomatis kemampuan bahasa Inggrisku terdongkrak naik.

Menjelang tingkat-tingkat terakhir aku tiba-tiba teringat dengan bahasa Jermanku itu dan aku langsunglah registrasi di Goethe Institut. Tempat les bahasa Jerman dari Kedutaan Jerman.

Waktu les bahasa Jerman di Goethe Institute Jakarta sekitar tahun 1992-2000, yang dipelajari tentu saja keadaan Jerman, baik budayanya, kotanya, perilaku penduduknya, perbedaan dialek antar daerah, lagu-lagu dan berbagai macam hal lainnya. Ada juga hal yang tidak biasa disini saat itu, yaitu FKK alias nudist. Itu sampai seru sekali dibahas di kelas-kelas, karena kami juga harus membuat perbandingannya di Indonesia, dari berbagai segi. Hal lain seperti zusammen leben (hidup bersama) juga menjadi topik hangat di masa itu. Topik lainnya yang juga panas adalah Hochzeit (perkawinan), Recht/ Gesetz (hukum), Religion (agama), dan Kesadaran lingkungan, dan Politik. Yang menakjubkan ternyata banyak orang Jerman memilih tidak menikah karena berhubungan dengan pajak. Wah aneh. Tapi itulah dia, banyak bahan menarik untuk dipelajari. Aku paling benci disuruh presentasi politik, karena harus menguasai pengetahuan mengenai partai-partai di Jerman dan kebijakannya. Sedapat mungkin lebih baik disuruh diskusi mengenai literatur Jerman atau budayanya daripada kondisi politik.

Kalau membahas politik disana, tampaknya pikiran capai sekali. Tidak seperti politik disini yang kadang cuma pepesan kosong dan tidak mendidik, disana itu penuh dengan analisa dan bukti serta dan fakta yang mendukung. Duh malah seperti kuliah. Semakin tinggi tingkatan bahasa Jerman kita, maka akan semakin ruwet tata bahasanya dan banyak arti yang tersirat dari suatu bacaan. Setelah belajar Jerman, malahan Inggrisku jadi lebih baik. Entah mengapa.

Selain itu, di kelas bahasa Jerman, aku juga belajar logika, dan struktur alur berpikir. Hal ini mungkin yang tidak pernah kita dapat di sekolah Indonesia. Jarang sekali hafalan, yang ada adalah harus menganalisa suatu situasi dan merumuskan dengan bahasa kita sendiri. Nah pantas saja orang-orang Jerman analisanya sangat mendalam dan bisa sangat expert di bidang tertentu. Tidak ada yang namanya asal komentar dengan cocokologi seperti disini. Ngawur. Bisa dipecat dari kelas Jerman kalau kita beradu argumentasi seperti itu. Hihihi. Semua harus berlandaskan fakta dan bukti pendukung serta hasil penelitian. Kalau tidak ya wasalam, makanya banyak calon mahasiswa Indonesia disana yang gagal karena tidak berbiasa juga dengan pola berpikir seperti ini. Lalu tidak bawa perasaan, setelah berdebat ya sudah. Kalau disini yang terpojok kan lalu jadi defensif, lalu kita yang nanya bener dibilang baper. Haduh. Parahhh. Wah sangat menarik sekali dan saat itu aku jatuh cinta dengan Jerman.

Temanku saat itu untuk belajar getol adalah Dwiyana orang Siemens, sekarang entah dimana dia adanya. Jaman itu,semua berbau Jerman pokoknya dilalap habis bacaannya. Internet masih sangat jarang walau sudah ada, jadi kebanyakan kita meminjam buku dan video dari perpustakaan Jerman. Dan bukunya asik-asik sekali. Dan yang aku jatuh cinta juga adalah banyak sekali buku roman berlatar sejarah. Haduh kalau sudah baca itu lupa waktu deh. Saat itu di Indonesia masih jarang sekali penulis yang melakukan riset sejarah dan membuat buku roman sejarah.

Belajar Jerman itu, kebelit lidahnya di der das die, dengan bermacam perubahan bentuk akusativ, dativ, genitiv dan lainnya. Sampe bludrek ngafalinnya. Kalau tidak salah ada 64 perubahan kata tergantung di mana tempatnya di kalimat. Untung bisa hafal. Itu semua benda bisa dikasih gelar cewe, cowo atau netral, gimana ceritanya ya jaman baheula. Tapi lama lama itu bisa fasih keluar. Senangnya. Selain itu juga kata benda menjadi kata kerja dan kata kerja menjadi kata benda, juga menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian siswa. Kalimat yang sama bisa dirombak dalam berbagai bentuk dengan perubahan ini.

Pengalaman lain berbahasa adalah belajar bahasa Mandarin. Dan ya tiba-tiba cinta segala macam bau Cina hahahaha. Saat itu dari mulai dodol cina, kelenteng, ke Pecinan Glodok jadi favorit, cuma buat mengamati kultur budaya Cina. Aduh ampun deh. Mandarin bubar jalan, gurunya hamil pulang ke Peking, tidak ada pengganti selama setahun dan akhirnya kelas kami bubar dengan sendirinya. Dan berakhirlah periode ke Pecinan, Glodok dan Mangga Dua.

Waktu giliran les bahasa Jepang sebelumnya, karena akan dikirim ke Jepang ya kalang kabutlah menyerap segala perJepangan, kalau tidak salah era cinta Jepang itu sudah sejak tahun 1985-1986 !!! Makanya kalau orang baru hips lagi sekarang ini ke Jepang, aku sejak jaman itu sudah Jepang-jepangan. Bolak baliknya ke perpustakaan Jepang di Wisma Metropolitan Building, sampai bengek itu bacain hiragana, katana plus sedikit kanji lalu buka kamus untuk tahu artinya. Lesnya di Jalan Kartini sana yang sampai sekarang masih top banget. Teman sekelasnya ada penyanyi bar Jepang, jadi kalau istirahat nyanyilah dia kita pada nonton. Hahahaha. Jepang hanya sampai menengah karena setelah masuk menengah, kuliah pindah ke Depok dan susahlah dari Depok ke Psar baru jakarta untuk ngejar les. Jadi bubarrrrrr. Bahasa jepang ruwet di partikel dan posisi kata MD DM. Pokoknya memang harus kerja keras untuk menguasainya.

Kelas Belanda beda lagi, gurunya sampai jadi teman dan sering makan nasi uduk bareng di Tanah Abang. Hahahah. Gaul abis deh disana. Karena basic Jerman ku kuat maka aku diperbolehkan loncat kelas beberapa kali. Les di Erasmus Huis itu asik, Taal Centrumnya keren, ditunjang dengan perpustakaan yang keren dan murah, ada pula pusat linguistiknya (itu loh yang kelas mendengar pake headphone). Lalu hmmm ini dia. Sekitar situ ada nasi goreng asoi dan sup daging. Alhasil kalau istirahat berombonganlah para peserta les Belanda pesan dan duduk disitu. Kasihan itu yang punya pernah dia upgrade baru beli mobil pick up untuk jualan, eh selang berapa lama dicuri orang. Ya nasib. tapi sekarang kayanya sudah beli baru.

Di Kedutaan Belanda juga ada restoran masakan-masakan Belanda dengan harga terjangkau. Wah poffertjesnya yummy sekali disitu. Duh jadi kangen harus kesana lagi deh.

Kalau pelajaran lebih mudah dimengerti karena dasar Jermanku kuat. Sayangnya pas ujian terakhir di level S5 kalau tidak salah, aku habis stroke dan absen beberapa lama. Begitu masuk ujian yang ditanya bahasa Belanda yang keluar di mulut bahasa Jerman. Korslet otaknya dan itu tidak sadar lo aku ngomong bahasa apa. Hahaha. Untung lulus.

Sempat les Belanda dengan ibu temanku Kusumo, namanya Tante Weni, waduh kalau kesana kenyang disodorin kue-kue Belanda. Jadi lesnya sambil mengunyah. Sudah nasibku tersirat kalau les bahasa, dapatnya gurunya senang memamah biak bersama. Hahahhaa. Kangen juga dengan tante.

Perancis … nah ini dia… gara-gara satu saat lewat di Bandung eh ada CCF (sekarang IFI) di Bandung. Jadilah ambil kursus disana, eh setelah itu malah keterima di UI, jadilah pindah ke Jakarta dan berhenti. Namun dasar ya keinginan terpendam Perancis itu tidak terbendung. Jadilah mulai tahun 2007 byar pet keluar masuk kelas Perancis. Kenapa byar pet, kadang-kadang ada tugas kantor, kadang-kadang kelasnya tidak ada, jadi harus menunggu 2-3 semester. Alhasil, inilah kelas paling aneh, level 1,2,3,4 bisa sambung ke 2, nanti ke 4, nanti ke 5 nanti ke 3 gitu, balik ke 5, loncat turun ke 2. Hahahaah. Seperti main ular tangga. Sampai kepala sekolah dan administratornya dah maklum deh. Hahaha.

Tapi Perancis itu memang indah bahasanya, selain ngiung-ngiung sengau dan berebet-berebet cepat seperti orang bergumam, pokoknya ini salah satu bahasa favorit. Mau logat Sunda dah terserah, yang penting bolak balik Perancis, ditinggal mana saja hayuk bisa ngobrol sama orang sana. Dan semakin level atas, bertaburanlah tentang sejarah Perancis, fashion, film, kuliner, gaya hidup dan hal lainnya yang harus dipelajari. Aduh sangat menarik sekali. Lucunya disini sekali lagi harus belajar logika, penulisan yang cermat, dengan berbagai argumen pendukung dan lawannya, serta bagaimana kita harus memutuskan mana pilihan gagasan itu. Seru sekali. Pelajarannya banyak memakai simulasi di kelas-kelas dasar, seperti suasana di pertokoan, rumah sakit dll. Juga banyak menonton film Perancis. Semakin ke atas tingkatnya, podo wae sama Jerman hahahha, presentasi dah. Dan menulis essay dengan berbagai argumen dan kesimpulan. Kalau udah pusing kepala ketik bahasa Indonesia dulu, lalu masukkan google translate diam-diam. Nah lalu tinggal diedit. Hahahaha. Metode cara cepat belajar bahasa.

Di IFi Wijaya tersedia warung Perancis, alias kantin… Wah asoi masakan Perancis ni ye, tapi disitu Perancisnya Perapatan Ciamis, qiqiqiq ya karena boro-boro ada makanan Perancis, yang dipajang itu makanan Sunda. Dan murce murce bergembira. Nah itulah sembari les Perancis, mendengarkan dan berdiskusi dalam Perancis di French Cafe (idealnya… kenyataan semua pakai lu gue bahasa gaul Jakarta hahhaha), makanannya tetap Sunda. Boleh dicoba deh mampir sana. Oh ya yang seru pula ada perpustakaan mini dan banyak komik Peranics, aku suka sekali bacanya , gambarnya bagus-bagus juga.

Jadi belajar bahasa asing itu menyenangkan, jangan takut. Jangan cuma Inggris tapi PD saja lagi belajar banyak bahasa. aku lagi mengincar Italia dan Thai ni. Pokoke satu saat harus bisa bicara dalam kedua bahasa itu.