Duh bangun pagi itu malas deh, setelah badan kejang-kejang karena kemarin berkeliling kota, kini harus bangun pagi dan berangkat ke Guangzhou. Alarm Ipod berbunyi terus menerus dan jam masih menunjukkan pukul 5.45. Temanku Riki masih terbaring dengan dengkurnya yang aduhai. Ya semalam tak bisa tidur juga karena dengkurannya yang mengguncangkan dunia.

Akupun bangun dan pergi ke kamar mandi. Setelah mandi, berpakaian dan berkemas maka kamipun check out dari hotel itu.

Perjalanan menenteng koper berjalan sepanjang Nathan Road untuk ke stasiun East Tsim Tsa Tsui cukup jauh. Lumayan berat, apalagi untuk menuruni berpuluh anak tangga. Lain kali rasanya bawa baju 3 saja, dan segala macam kabel itu aku tidak usah bawa saja. Setengah isi koperku cuma kabel, colokan listrik an berbagai macam gadget. Hahahaah. Sudah persis kaya tukang reparasi komputer. Untung nggak bawa kulkas portable.

Dari East Tsim Tsa Tsui menuju stasiun Hung Hom ditempuh dengan satu kali perjalanan MTR. Seringkali tertukar antara Tsim Tsa Tsui dengan East Tsim Tsa Tsui, walau nampaknya di peta berdekatan, tetapi nyatanya tempatnya berjauhan dan harus berjalan kaki untuk mencapainya. Sesampainya di Hung Hom kamipun mencari makanan. Stasiun Hung Hom ini sedang dibongkar dan direnovasi. Penampakannya kini seperti Bandara modern, dengan kaca-kaca dan juga pilar-pilar baja dimana-mana. Gambir perlu tuh direnovasi seperti ini. Semuanya ditutup dengan panel-panel kaca yang luas. Semua pertokoan diseragamkan bentuknya dan diberikan tempat yang teratur, jadi tidak campur aduk seperti di Gambir. Desainnya seperti stasiun-stasiun di Eropa dan Jepang, minimalis dan lega.

Tiket kereta Hong Kong Guanzhou satu kali perjalanan berkisar di harga Yuan 210, sehingga untuk bolak-balik kita harus membayar Yuan 420 (kalikan dengan Rp. 2.100) (kurs tahun 2016)isa dipesan online dari Indonesia. Lebih baik online daripada mengalami kesulitan berbahasa di sana.

Kamipun naik ke lantai satu, karena di lantai satu ini tersedia food court. Ada berbagai pilihan dimsum, makanan chinese lainnya, Burger King dan Kafe. Tempat duduknya cukup banyak dan tersebar memanjang.
Makanan disini harganya lumayan juga, dimsum 3 potong siomay kecil itu berkisar antara $32 HKD, ayam chicken drumlets dua potong dengan satu gelas lemon tea berkisar harga yang sama $34 HKD. Cukup mahal untuk ukuran Indonesia. Lah kalau paket lengkap Burger King hamburger dengan kentang dan minum biasanya seharga $40-$60. Sandwich di food court bisa berharga $35. Pilihan lainnya adalah pergi ke 7-11 di lantai bawah dan membeli sandwich yang sama dengan harga setengahnya sekitar $13 HKD. Kalikan harganya semua dengan Rp.1.750 (tahun 2016) untuk mendapatkan harganya dalam uang Indonesia. Sepuluh tahun y ang lalu kesini kursnya hanya dikalikan 900-1000 saja. Perbedaan yang cukup signifikan.

Eh surprise, ternyata selama makan pagi tersebut diiringi lagu klasik dari Mozart, wah senangnya. Setelah pengang dengan dangdutan dari speaker keras-keras di Indonesia, ada juga musik nyaman di telinga di Hong Kong. Sayangnya lagunya hanya diputar sebentar. Mungkin mereka lagi uji coba instalasi pengeras suara. Lainnya lagi, ternyata atapnya yang tinggi, menjadi sarang burung-burung. Selama makan banyak burung beterbangan di atas dan berkicau-kicau. Lumayan lah suasana alami, asal jangan doi berce-berce saja. Kan berabe kalau lagi makan misalnya ada tambahan menu jauh ke makanan kita. Hihihi. Rejeki dari langit gak boleh ditolak.

Setelah menyelesaikan makan pagi, kami beranjak pergi ke tempat antri kereta api, tempatnya terpisah harus keluar dulu dari gedung food court, berbelok ke kiri dan disana kami menunggu kembali di dalam antrian karena pintunya belum dibuka. Prosesnya seperti di bandara, setelah pemeriksaan karcis, kamipun masuk melalui metal detector dan semua tas harus dimasukkan ke sana ke mesin deteksi juga. Setelah selesai dengan proses ini, masuklah ke bagian Imigrasi. Untung visa sudah diurus dari Indonesia, sehingga tidak mengalami kesulitan. Bagi yang belum, dikasih lah sederet pertanyaan. Belum lagi pas masuk Chinanya, pemeriksaan Imigrasinya lebih lama dibandingkan dengan di Hong Kong.

Melewati bagian imigrasi, ada ruang tunggu yang cukup luas, di dalamnya juga ada toko duty free, dengan harga yang nggak kira-kira, jadi batal deh mau beli-beli disitu. Harganya malahan sama mahalnya sama mall di Jakarta. Yang ada sibuk semprot perfumes sana sini, mumpung gratis. Hahahahaha. Lumayan kan segar bugar wangi kinclong sejahtera.

Setelah menunggu sebentar tiba waktunya masuk ke kereta. Rupanya platform keretanya ada di bawah. Dan keretanya rapih, bersih, dan kinclong. Kursinya nyaman sekali, dan yang menyenangkan mejanya itu bisa untuk kerja, menaruh laptop. Kayanya ingin dibawa pulang, abis lucu, jadi dia bentuknya ditarik ke atas dan dibuka. Sayangnya, selama perjalanan jaringan teleponnya tidak bagus sinyalnya sehingga tidak bisa mendapatkan koneksi.

Setiap gerbongnya dilengkapi dengan TV, dan juga AC, Acnya disetel sejuk bukan dingin. Para stewardessnya berpakaian rapih dan cantik,sayangnya tidak bisa berbahasa Inggris, jadi dengan bahasa Mandarin dan bahasa tarzan, kami mencoba berkomunikasi. Banyak aturan dah, koper di rak atas tidak boleh menghadap keluar, harus disusun sejajar memanjang sesuai rak, duduk harus rapih dah dan sebagainya. Mungkin karena negara biasa dengan disiplin semuanya, jadi naik keretapun begitu. Boro-boro bisa masuk loncat jendela seperti di Indonesia kalau lagi mudik ya.

Oh ya, jangan lupa meminta kartu imigrasi untuk melintasi wilayah China, mereka akan membagikannya kepada kita, warnanya kuning. Coba balik bagian belakangnya deh, ada aturan kalau datang ke Guangzhou dan belum punya hotel, maka diharuskan laporan dalam waktu seminggu ke kepolisian setempat, haduh berabe dah. Lihat di fotonya ya.

Perjalanan memakan waktu dua jam dan tidak terasa, selain keretanya bersih, baru dan bukan kereta lama seperti di Indonesia, tempat duduknya juga lega. Yang keren itu tirainya pakai semacam venetian blind ditarik ke bawah begitu tipis, waduh kalau kereta di Indonesia kan pakai hordeng hejo, ada yang pingkie bergembira pula, belon lagi kalau sudah lecek gak pernah dicuci. Di Indonesia perlu belajar seni memang, supaya berkelas, kalau tidak kereta diperlakukan kaya rumah hahaha. Jadi mikir, itu sebabnya mungkin Jokowi menyerahkan proyek kereta ke China, memang keretanya bagus sih.

Itu stewardessnya sepanjang perjalanan sama kaya di kita, bolak balik nawarin makan, belum sempat coba, karena sudah kekenyangan pagi-pagi.

Sepanjang perjalanan pemandangan bercampur antara perkotaan dan perbukitan. Banyak di antaranya diwarnai apartemen-apartemen tinggi. Eh bujubune, yang ajaib beberapa bangunan malah miring-miring dibangunnya. Gila dah. Apa mata aku jereng karena capek jadi miring, apa emang miring. Lah bukitnya kemana itu, di atasnya dibangun puluhan blok apartemen miring-miring. Gak serem apa ya. Beneran miring gitu. Apa emang modelnya sangaja begitu menyesuaikan dengan kontur alam wah gak tahu deh.

Beberapa stasiun dilewati, tidak sempat catat juga namanya, lagian nama cina kan, bacanya saja lidahku masing belum bisa. Dan berakhir di Guangzhou East Station. Wah ternyata stasiun kereta besar sekali, dan langsung terintegrasi dengan stasiun bus antar kota dan juga metro/ mrt.

Proses imigrasi setiap orang berlangsung agak lama. Untung sudah ada visa China jadi bisa langsung diacc. Kalau yang belum punya sebelum masuk ke imigrasi disana tersedia loket visa, namun petugasnya tidak selalu siap sedia. Jadi lebih baik siapkan visanya dari Indonesia supaya sampai disana tidak mengalami kesulitan dengan imigrasi.

Keluar dari imigrasi kami turun ke area kedatangan di bawah, besar sekali. Ada KFC disana, bagi yang kelaparan di sebelah kanan dekat dengan gate 7. Sementara untuk mencapai hotel aku berdua harus keluar melalui gate 5 dan menyebrang jalan. Beneran sudha seperti bandara, mereka pakai sistem gate untuk pintu-pintunya. Untuk keberangkatan dan kedatangan juga memakai pintu masuk yang berbeda. Untung hotelnya tidak jauh. Keluar dari hall kedatangan rupanya banyak sekali terdapat pertokoan, sudah tidak sempat lihat lagi, yang penting masuk hotel dulu menaruh semua barang bawaan.

Nah itulah pengalaman memasuki area China. Btw kartu telepon Telkomsel roaming yang harusnya berlaku di China, di Guangzhou tidak bisa digunakan sejak dari kereta dan hanya bisa mencapai speed Edge saja. Padahal di Hong Kong kartu tersebut bisa digunakan dengan lancar.

Sampai jumpa di pengalaman berikutnya.