Osaka Castle 2016 …
Niat hati ingin menikmati perjalanan eh malah dapat penampakan … Selamat menikmati.
Hari itu udara masih dingin di Osaka. Suhu berkisar di antara 5-6 derajat celcius. Untungnya matahari bersinar terang disana. Jadi cerah dan tidak hujan.
Dari pagi mau bangun aduh pegal linu dah. Temanku Tata dan anaknya sudah dari pagi meninggalkan hotel. Mereka mengunjungi Universal Studio. Sementara aku, masih berkutat di tempat tidur merasakan nikmatinya kehangatan balutan selimut.

Akhirnya kuputuskan bangkit, mandi, berpakaian, membereskan kamar dan makan pagi. Suasana di restoran lebih mirip warung di Indonesia, banyak sekali orang-orangtua warga Jepang yang berkumpul disana dan bercakap-cakap. Mungkin mereka sedang saling bertukar informasi mengenai keluarganya. Yang melayani adalah gadis belia dan juga seorang ibu. Mereka sangat ramah walaupun tidak bisa berbahasa Inggris, jadi mereka bercakap denganku dalam bahasa Jepang dan tarzan. Menuku hari itu adalah roti, pisang, salad, telur, pisang, dan orange juice. Agak agak ajaib juga dah pisang dicampur salad dan roti. Setelah beberapa saat, aku segera menghabiskan makananku dan beranjak dari restoran itu. Suasana di jalan masih tampak sepi. Beberapa kendaraan melintas dan kebanyakan adalah mobil-mobil kecil berbentuk kubus. Lucu sekali. Ada berbagai macam merek yang melesat. Mungkin itulah yang disebut citycar atau kei jidosha. Sayang belum masuk Indonesia.

Akupun pelahan berjalan kaki menuju stasiun kereta, letaknya kira-kira sekitar 300 meter dari hotel. Sengaja memang mencari hotel dekat stasiun, dengan anggapan kalau capek tinggal kembali dan bisa beristirahat dengan cepat.

Dekat stasiun ada Mcdonald, aku lapar lagi dah dan memesan semangkuk sup jagung. Semangkuk jagung hangat datang dan bisa membuatku lebih merasa hangat. Udara dingin membuatku selalu kelaparan. Sudah mah bohay, eh musim dingin malahan makin semok saja di Jepang. Maklum makanannya enak-enak semua. Niat jalan kaki 10 kilometer sehari biar kurus, kalah sama dengan ransum yang dimakan hahahaa.
Setibanya di stasiun, akupun menuju Osaka Castle…, setelah bertanya akupun melangkahkan kaki menyebrang menuju tamannya dahulu.
Ternyata tamannya sangat luas, capek juga jalannya 2 kilometer hanya melintasi taman untuk sampai ke Osaka Castle.

Tamannya bersih sekali, berbeda sekali dengan di Indonesia. Banyak orang juga berolah raga disana. Di satu sudut beberapa orangtua tampak bergerombol berbagi berita di antara sesama mereka. Beberapa kali melintas orang bersepeda. Beberapa siswa melintas juga. Aku sampai di pinggir sungai dan menikmati pemandangan musim dingin. Pohon-pohon dengan rantingnya yang berwarna kuning, berderet rapih sepanjang sungai dan memberikan kontras yang baik pada sungai yang mengalir tenang berwarna keperakan. Di latar belakang tampak langit Osaka yang berwarna biru bersih tanpa noda. Sesekali orang lewat dan bercakap-cakap dengan suara pelan. Aduh , inilah ketenangan yang kucari, tak pernah kudapat si Indonesia yang selalu hiruk pikuk.
Berkelok setelah berfoto ria di pinggir sungai, akupun sampai di beberapa puluh tangga batu. Sebelum naik ada dua toilet disana. Saat itu hatiku sudah mulai tidak enak. Namun kutepiskan perasaan itu dan lanjut menaiki tangga. Saat itu beberapa anak sekolah berlarian menaiki tangga tersebut. Duh aku mah pegal linu, kudu minum jamu mencos ini mah, mendaki tangga 30 lebih… Mana curam lagi. Dengan nafas terengah akupun sampai di pelataran atas. Dalam hati, semoga langsing ya (padahal pulang timbangan nambah bukannya kurus hahaha). Waduh di arah kanan tampak menyembul dari kejauhan Osaka Castle. Aku memutuskan untuk berjalan mengitari tempat itu ke arah kiri bukan kanan. Keputusan yang salah, karena itu berarti mengelilingi komples kastil itu dan ada kali 5 kilometer hahaha …

Setelah berjalan mengelilinginya, di beberapa tempat, di kiri kanan jalan, banyak ibu-ibu bertepuk tangan. Duh aku kege eran sendiri, ini aku salah pakai kostum apa ya. Celingak celinguk sembari jalan terus,dan da dah kiri kanan. Dadah dadah. Hahaha keren deh serasa jalan di catwalk. Tapi kok lama-lama aneh ya, kok mereka tidak membalas dadahku. Tiba-tiba serombongan anak-anak datang menyerbu berlarian dari arah berlawanan. Oh rupanya mereka acara sekolah memperebutkan piagam. Wah ramai sekali, para emak-emak semakin heboh menyoraki putra-putrinya. Rupanya aku berjalan di track mereka berlomba hahahaha. Langsung nyingkem belok belok zig zag pindah ke jalur semak belukar. Hahaha. Ssst jurus ngabur dahhh. Gagal jadi bintang pelem hari itu.
Sembari terus berjalan dan memotret kiri kanan (yang agak-agak mistis begitu gedung menara pertahanannya), sampailah di halaman utama. Halamannya dipenuhi dengan pohon-pohon besar yang ditekuk dengan teknik Bonzai. Tapi aku kok merinding ya. Kuputuskan langsung berjalan menuju ke arah gerbang utama. Sayangnya sedang direnovasi. Akupun meneruskan langkah ke arah dalam. Wah ternyata semakin luas, dan ada beberapa tempat perhentian untuk membaca petunjuk. Ke arah kiri kita akan menemukan rumah khas Jepang yang sayngnya di situ sedang ditutup areanya, ke kanan melewati bebatuan besar yang merupakan sisa sisa bekas benteng lama dan sudah berumur ratusan tahun. Aku sempat memegangnya sebentar. Gelombang rasa dingin menusuk terasa di telapak tanganku dan menghentikanku untuk menyentuhnya lagi. Wah semakin dah …

Tak lama-lama disitu akupun beranjak ke arah gedung utama… Di bagian luar ada beberapa toko, toko satay, makanan lainnya dan minuman, es krim, beranjak ke belakang ada Toko Perangko Osaka, lanjut seterusnya adalah bangunan semacam halte bus, dan patung seorang pahlawan Jepang. Lalu beberapa rumah-rumah disana. Rumah ok tapi itu halte bus, haduh aku tak berani lama lama, walau siang mulai menyengat dan terang benderang, itu halte membuatku menahan nafas dan merasa mual. Entah apa ada disana, pokoknya aku tidak mau lama-lama.

Akupun beranjak berbalik arah menuju bangunan utama, yang lagi-lagi disambut dengan gerbang besar melewati sungai. Sebelah sungainya kering, sebelah sungainya penuh air. Mungkin mereka sudah punya sistem irigasi canggih yang mengatur aliran air tersebut.

Di bagian dalam Palace, terhamparlah taman, dan di kejauhan tampak Osaka Palace yang berkilat terkena cahaya matahari pagi. Kalau kita mau naik ke atas dan masuk ke dalam, kita harus membeli tiketnya. Di sebelah kanan adalah bangunan bekas museum yang tidak terawat dan tampak gelap walaupun siang hari. Terdiri dari 3 atau empat tingkat dan itu berbentuk seperti kotak panjang raksasa. Di kiri tampak berjejer toko souvenirs. Akupun beranjak masuk.

Lewat di depan bangunan tak terpakai itu, tiba-tiba badanku merasa lemas dan lelah. Lah aneh kan sudah berjalan berkilo-kilo meter tidak apa-apa, masa sampai situ tiba-tiba lemas. Langsung mikir jantung nggak ya. Nggak juga tuh, orang sehat-sehat.

Wah celaka ini, dari pengalaman sebelum-sebelumnya biasanya kalau sudah begitu berarti ada sesuatu yang menyerap energi. Biasanya kumpulan energi negatif dari alam lain yang berusaha mengumpulkan energi. Dengan langkah tertatih akupun berusaha menjauhi tempat itu, beranjak ke sebelah tengah. Begitu di tengah … Energiku kembali … Aneh dah … Jadi aku putuskan aku langsung ke gedung utama.

Pohon-pohon yang ada masih belum menampakan daunnya. Mungkin karena masih di musim dingin. Angin dingin sepoi-sepoi membelai mukaku. Aku pergi mencari air untuk membasuh mukaku. Lalu duduk sebentar untuk mengambil beberapa foto. Di tengah tampak beberapa orang asing mencoba baju Samurai dan berpose.
Setelah lebih merasa kuat, akupun beranjak membeli tiket masuk. Dan perjalananpun dimulai. Rute awal adalah naik tangga dan berhenti di sumur. Duh tuh sumur ya. Nggak dah gue disuruh lama lama situ. Orang-orang sih sibuk lihat-lihat dan berfoto. Saat itu, gelombang rasa dingin merayap dan menerjang mukaku. Waduh nggak deh, udah wasalam aja ya babay hahaha.

Akupun menggabungkan diri dengan rombongan lainnya dan mulai naik satu persatu tiap lantainya… Wah antrian orang masuk mengular panjang tidak kalah dengan Disney. Herannya, dasar hoki, aku disuruh masuk jalur khusus langsung naik ke atas. Ya sudah di jalur itu akupun naik ke atas.

Singkat cerita semua lantai kunaiki dan foto-foto. Isinya berkisar mengenai diorama peperangan para Shogun dulu, topi-topi dan aneka baju Samurai, kemudian peta serta miniature kota tuanya, dan lain-lainnya. Mengingatkanku pada cerita Musashi dulu yang tujuh jilid. Persis seperti itu. Diorama miniature yang keren menggambarkan peperangan dan dibuat dengan keakuratan hang tinggi. Di lantai paling atas kita bisa berkeliling melihat kota Osaka. Setelah selesai akupun berjalan turun ke bawah. Di Lantai bawah itu ternyata tersedia toko souvenir. Aku keluar dan membeli minuman serta beistirahat sebentar.

Perjalanan pulang akupun melewati si gedung tua itu lagi. Ternyata di bagian depannya ada peta besar mengenai wilayah tersebut dan keterangan masing-masing. Setelah selesai membaca akupun beranjak pulang. Nahhhhh pas pulang itu deh ala mak jan.

Akupun merasakan seseorang menatapku dari satu sudut. Begitu tajam dan menusuk. Kerasa kan kalau kita jalan lalu ada orang yang memandang ? Nah seperti itu. Tapi ini aneh. Badanku terasa lemas kembali dan merinding. Hadohhhh tengah siang jam 11 an masa merinding. Ya merinding disko disitu.
Akupun pelan pelan memutar kepalaku melihat ke arah kiri ke belakang. Haduhhhh … Nun kejauhan di lantai paling atas sudut paling belakang di jendelanya yang tertutup itu penampakan … Haduh langsung balik kepala jalan merunduk pelan-pelan…

Tapiiiii penasaran bo … Aku nengok lagi … Eh masih ada … Wanita putih melayang bertengger di jendela bagian dalam. Mukanya tanpa ekspresi. Rambutnya panjang berjuntai bertebaran. Dia memakai kimono putih dengan warna hitam di dadanya. Ekspresinya nggak jelas. Hanya matanya tajam. Kebayang nggak ??? Ngambang gitu naik turun dengan rambut tergerai menatap diriku. Gelombang emosi perempuan itu, campur aduk merasuki dan menerpa diriku. Terasa kegetiran, kemarahan, kegelapan, rasa tak berdaya, putus asa semua bercampur aduk.
Wah bridging ni namanya ke dunia lain. Selintas muncul kilasan. Dia korban perkosaan dan dibunuh. Di pintu masuk gedung itu, yang tertutup rapat, muncullah tentara dengan pakaian kuno berwarna kehijauan membawa senjata yang dujungnya ada pisau. Aduh nggak tahu deh … Udah makin nggak bener ini mah.

Aku hanya bisa berjalan makin cepat dan makin cepat dari situ. Pokoknya jauh dah ya. Daripada semakin banyak penampakan. Rasanya dia masih menggapai gapai, tapi aku sudah nggak sanggup disitu. Sebodo apa kata orang deh bagus deh bagus. Aku mah mendingan kabur.

Sampai di luar gerbang beban berat itu masih terasa. Kacau benar emosiku … Akupun mulai walking meditation (meditasi berjalan umat Buddhis) sembari mengatur nafasku. Mungkin selama 15 menit untuk membuat akufokus kembali dan tenang kembali.

Saat itu kuputuskan untuk pulang. Dan tidak kembali lagi dah kesana, mau diajak kapan juga. Mau ada sakura kek, mau ada festival apa kek. Sudah cukup sekali ya. Hehee.

Ternyata ada beberapa tempat lainnya di Tokyo dan Osaka yang aku juga mengalami sentuhan dunia lain.
Tapi teman kalau mau kesana pergi saja ya, asik kok lihat-lihat. Sepanjang anda bukan orang sensitif tidak apa-apa kok. Jangan terganggu dengan ceritaku ya.
Sampai jumpa di lain cerita ya …
Salam

Jalan-jalan Setapak Osaka Castle
lLingkungan Osaka Castle
Osaka Castle pemandangan sekeliling
Osaka Castle