Salah satu biaya termahal di Eropa adalah penginapan. Aduh bisa menjerit kita kalau mengkonversi kurs Euro menjadi Rupiah. Sekarang ini kurs Euro bisa mencapai Rp. 16.000 untuk satu Euronya.

Bayangkan jika kita ingin menyewa satu kamar hotel bisa saja di tempat strategis di tengah kota. Rata-rata harga kamarnya akan berkisar antara E100-E150. Itu bukan hotel bintang bagus loh… Kadang-kadang hanya hotel dengan kondisi seadanya … Kita kurs ya … 16.000 x 150 Euro = 2,4 juta ! He…. langsung bengek kan ?

Terbayang apabila kita menghabiskan waktu di Eropa selama **10 hari** misalnya maka hanya **untuk kamar saja kita bisa menghabiskan uang sebesar 24 juta rupiah.
**
Jangan tanya hotel berbintang di sana, pengeluaran sehari bisa berkisar di angka 4 – 7 juta semalamnya. **Jadi kalau berjalan-jalan selama 2 minggu, bisa dihitung pengeluarannya akan berkisar 64 juta – 98 juta hanya kamar saja**. Anehnya banyak orang di Indonesia yang bisa membayar hotel seperti itu, tapi bayar uang les piano cuma seberapa juta susahnya minta ampun. Hahahahahaha.

Bagi kita yang ingin berhemat banyak di Eropa untuk penginapannya ini sebetulnya ada beberapa kiat yang bisa kita ikuti. Simak ya.

**Apartemen / house via airbnb**
Tinggal di apartemen yang dipesan lewat airbnb adalah salah satu pilihan. Masalahnya seringkali di beberapa tempat lokasi turis, kadang-kadang harganya bisa lebih mahal dari hotel. Jadi hati-hati juga untuk memilih penginapan ini.

Lalu kita juga harus **mengecek lokasinya ada dimana**, seringkali kita terjebak memilih untuk mengambil airb&b, lalu lokasinya ada di suburb atau memerlukan lagi akses kendaraan ke tengah kota. Yang tadinya murah, malah menjadi lebih mahal. Selain itu jarang yang menyediakan makan pagi, otomatis kita harus mengeluarkan uang tambahan lagi untuk berbelanja.

**Numpang di kenalan**
Tinggal di rumah kenalan.
Tentu saja ini gratis hahahaha… Cuma jangan kelamaan ya, orang kita kan kalau ada kesempatan gratis maunya semua sekalian gratis.

Lah yang punya rumah bukannya pembokat lagi lantas semuanya mau dilayani. Mbok ya sadar diri sudah numpang, ikut bantuin kek atau nyumbang potluck.

 

**Hostel**
Tinggal di Hostel (terutama untuk lajang yang tidak mau libet). Hostel merupakan pilihan lain yang terjangkau untuk traveler. Banyak sekali pilihannya, dimulai dari yang sekamar 25 orang (ada tuh di Amsterdam), 10, 6, 4 orang.

Yang tidak banyak juga orang ketahui adalah bahwa Hostel juga menawarkan pilihan kamar untuk single dan berdua. Tentunya dengan harga jauh lebih miring.

Banyak orang berpikir kalau Hostel hanya menawarkan dormitory ramai-ramai, padahal banyak yang menawarkan pilihan kamar private atau twins.

Selain itu, yang juga menyenangkan adalah gaul habis. Juga interiornya seringkali wow.

Kita bisa bertemu dengan berbagai orang dari seluruh dunia, dan juga belajar mengenali berbagai jenis pekerjaan mereka yang kadang-kadang tidak disangka-sangka.

Di berbagai Hostel di berbagai negara, aku pernah berkenalan dengan seorang traveler yang pekerjaan sehari-harinya dokter bedah, ada lagi yang programmer komputer, agen asuransi, pemain pantomime, desainer interior, pegawai pemerintah, seniman jalan (yang ternyata mahasiswa seni College of Music terkemuka) dan lainnya.

Bertemu dengan pemain gitar flamenco mirip Jesus juga ada hahahaha. Ngagetin bener dah, lagi di kamar, tiba-tiba masuk seorang ‘Jesus’ check in. Sampai bengong, gusek-gusek mata lah ini kok ada Jesus datang. Cuma hips saja bawaannya cuma bawa ransel satu dan guitar. Weleh-weleh. Mungkin kalau ada dikasih jubah, jadilah dia penampakan Jesus yang sempurna. Mirip banget sama gambar-gambar Jesus di buku.

Kalau aku pribadi aku lebih suka tinggal di Hostel. Kenapa ? Pilihannya jauh lebih banyak daripada hotel biasa di Eropa. Mau private ? Tinggal order kamar single private. Mau ngobrol banyak dan jalan bareng, tinggal order kamar yang rame-rame nano-nano.

**Hostel kadang-kadang mengejutkan dan mempunyai karakteristik unik yang tidak ada di airbnb, hotel ataupun apartemen**.

Satu hostel di Barcelona mempunyai fasilitas laundry, perpustakaan, sundeck untuk membaca dan berjemur di atas atap, bioskop mini, internet kafe, vending machines, kebun bunga, dan terletak dekat mini market buah-buahan.

Di Paris, hostelnya cool habis, ruang tamu dan diningnya didesain anak muda banget plus setengah mobil dipermak dijadikan pajangan di dinding, plus dapur besar sekali, jalan 2 menit keluar langsung supermarket mini, jalan 10 menit tibalah di Sacre Coeur. Jalan 15 menit Carrefour. Makan paginya super lengkap ala Eropa, ditambah dengan segala jenis croissants yang lembut, hangat dan wangi plus juice dan buah-buahan. Nah kebayang kan.

Di Berlin, di belakang satu hostel ada danau dan hutan kecil, kita bisa berenang, naik kapal di sana, ataupun cuma duduk membaca buku di pinggir hutan. **Persis cerita Lima Sekawan karangan Enid Byton**.

Di Salzburg Austria, hostelnya menghadap ke padang rumput. Setiap sore rombongan berbagai siswa membuat lingkaran, bernyanyi bersama dan menari. **Persis di film The Sound of Music**.

**Jaringan couchsurfing.com**
Tinggal melalui jaringan pertemanan seperti **Couchsurfing.com** dan **Hospitalityclub.org**. Cukup mengasyikkan dan seru jika kita menemukan host yang sesuai. Apalagi kalau passion dan minatnya sama. Bisa-bisa tidak berhenti ngobrol kemana-mana.

Tapi jangan hanya dipikir asiknya saja ya. Cukup banyak juga pengalaman traveler yang apes dapat host ajaib. Kalau lagi apes bisa saja kita bertemu dengan host yang memiliki gangguan kejiwaan (eh ada loh beneran kasusnya), atau sekalian pembunuh berdarah dingin (wkwkwkwkww kebanyakan nonton The Vampire’s Diaries). Masih untung nggak ketemu host vampire ya.

Pernah dengar kan cerita seorang traveler Indonesia wanita yang diperkosa ? Ngomong-ngomong perkosaan, jangan salah pria diperkosa sama host juga ada, hahahhaa. Jadi yang penting adalah waspada, sing eling. Selalu agak parno dikit dah kalau nginep di tempat orang baru dikenal.

Soal couchsurfing ini, aku pernah mencobanya namun menggunakan jaringan lain. Jaringan Philatelist. Lebih menyenangkan karena bergaul dengan orang-orang yang sama minatnya.

Philatelist ? Ya pengumpul perangko. Kolektor perangko di Eropa itu beragam, dan beberapa di antaranya merupakan kolektor worldwide atau bahkan Indonesia. Nah kesempatan deh. Jadinya berkeliling Eropa selama 2 minggu pindah-pindah rumah kolektor perangko.

Dari Indonesia, aku membawa khusus koleksi perangko terbaru untuk mereka. Senangnya mereka tidak terkira. Dan kita saling bertukar perangko dan berbagi ilmu. Ilmu perperangkoan orang Eropa itu oce dah… Mereka bikin itu koleksinya sampai subkategori dan semuanya terstruktur. Edannnn …

Dari situ saja belajar banyak, bagaimana hanya sekedar perangko mereka bagi koleksinya berdasar negara, lalu turun ke flora fauna, kejadian bersejarah, alat musik tradisional, transportasi, penemuan ilmu pengetahuan dan lain-lain. Ya ampun.

Salah satu kolektor namanya Bertrand Poque, orang Perancis, itu sampai berlemari-lemari koleksinya, lengkap dengan katalog bikinannya.

Orangnya jarang keluar negeri, namun jangan tanya pengetahuan dunianya, malu aku nggak ada apa-apa dibanding dia.

Untung aku bawa koleksi perangko baju daerah Indonesia, tari tradisional dan alat musik Indonesia, jadi nggak malu-maluin ditanya budaya Indonesia.

Satu kolektor lainnya Theo Hogenboom orang Belanda mempunyai special request, kapal-kapal Indonesia. Wah itu, aku sampai cari perangko berbagai kapal tradisional Indonesia di Pasar Baru. Untung dapat.

Sayang aku kehilangan kontak dengan mereka, karena pindahan rumah beberapa kali.

 

**Pilihan lainnya**
Ada masih banyak berbagai pilihan penginapan lain juga yang wow, antara lain menginap di **rumah pohon** (beneran rumah di atas pohon), di atas **kapal di sungai** (nanti coba aku mau uji coba di Seine), di **perkebunan anggur**, di **peternakan**, di **camping ground**, di **karavan**, di **kastil** (asal kuat bayar) dan masih banyak lagi.

Temanku Ade pernah menginap dan bekerja volunteer di kebun anggur di wilayah pedesaan di Perancis. Katanya asik, bisa belajar mengenai berbagai jenis anggur dan wine disana. Kalau aku sih nggak deh ya, disuruh di kebun. Hahaha.

Jadi kalau ke Eropa, kreatiflah, carilah jenis penginapan yang sesuai dengan minat, jangan di hotel terus. Dan tetap ingat menjaga diri.

Kuncinya kembali ke kita masing-masing ya… apapun pilihannya selalu waspada, dan selalu menjaga diri.

Nah teman-teman silakan putuskan mau menginap yang model mana. Semuanya kembali ke level kenyamanan masing-masing ya….

 

simak juga artikel ini :

Serial Eropa 1. Pengantar