Jejak Petualangan Si Joe

Be Smart With Joe

Aku Joe, penikmat musik Klasik dan Jazz, yang suka bertualang melihat indahnya dunia dan berkenalan dengan berbagai tipe manusia dan budaya. Aku senang membaca, mengumpulkan perangko, belajar berbagai bahasa, komputer, photography dan melukis (bingungen multi talent).

Tidak sengaja terjun ke dunia menulis (lah kerjaan sehari-hari piano kok…) gara-gara satu teman bilang, “Ayo dong kamu share itu perjalanan kamu kan banyak sekali.” Iya juga sih. Dari jaman dulu juga koleksi buku-buku banyak seperti : ‘How to be a travel writer lah’, “Work in travel industry’ dll. Kalau baca mengkeret  duluan dah, kayanya sanggup kah menulis, apalagi harus berbahasa yang beradab. hahahah. Sementara aku kan lebih casual yang penting sampai di pembaca idenya. Menulis lebih banyak di kelas les bahasa asing malahan. Sehari-hari mah hanya tulisan di berbagai journal aku saja. Lalu tiba-tiba entah kesambet jin mana, aku iseng menulis, satu, dua dst. Eh malah banyak yang respons. Amin dah amin ya. Entah berapa puluh yang minta jadi buku saja. nanti dulu ya, kepalanya cuma satu masih libet nulis dan bikin webnya. hahhaa. Suatu hari doakan saja terjadi ya, dan kita bisa sesi foto bersama penulis dan pembaca … hahaha.

Cia bollo

Joe Gunawan
Psikolog, Pianist dan Traveller (entah nantinya kalau jadi penulis betulan)

Keluargaku dari awal adalah keluarga petualang. Sejak dari awal kami terbiasa berkeliling ke berbagai kota di Jawa Barat. Kami tinggal di Sukabumi, dan nenekku di Pelabuhan Ratu dan Bandung. Dengan demikian kami sering berkunjung ke tempat mereka. Selain itu kami juga bertualang ke berbagai kota dan daerah di Jawa Barat,seperti Bogor, Jakarta, Subang, Sumedang,Cirebon, Ciemas, Garut, Tasikmalaya, Banten. Ayahku akan sibuk menyetir mobilnya, sementara ibuku duduk di depan, dan aku sibuk bermain di belakang. Saat itu aku tidak menyadari bahwa itulah cikal bakal kenapa aku suka bertualang. Kami mengunjungi berbagai tempat bersejarah dan situs-situs budaya. Aku dijejali dengan penjelas guide lokal nggak jelas jaman itu, mengenai sejarah kerajaan-kerajaan Pasundan, Pajajaran dengan Prabu Siliwanginya. Saat itu mungkin aku berusia 4-5 tahun. Seringkali kami harus berjalan subuh-subuh dari Sukabumi dan pulang hari malam-malam setelah kami berkunjung ke Garut dan Ciamis untuk nyekar.

Dengan kesibukan tugasnya, ayahku merambah Indonesia. Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali adalah daerah-daerah yang sering dikunjunginya. Banyak diantaranya menggunakan kapal terbang dan beberapa kali juga aku diajaknya. Saat itu penerbangan terbaik adalah hanya satu : Garuda. Jangan bayangkan pesawat jaman itu seperti sekarang. Dulu pesawatnya kecil-kecil dan banyak guncangan kalau sedang terbang, pramugarinya berkonde tinggi-tinggi, dimana aku sebagai anak kecil heran dengan tumpukan di kepalanya. Belum lagi bertanya-tanya kenapa mereka harus memakai kain yang ketat sehingga susah jalan. Bagiku naik pesawat seperti itu adalah hal-hal magic yang bisa dipikirkan anak kecil. Kok bisa ada orang banyak di pesawat, terbang lagi. Sungguh tidak masuk akal dan seperti mimpi. bandara saat itu kuno dah, masih di Halim kalau tidak salah. Kalau perjalanan pulang, kami harus berjalan di landasan ke ruang kedatangan, dan jauh pula. Aku pernah dimarahi karena menumpahkan seluruh isi kantong plastik hasil belanja di Singapore, di lapangan bandara, alhasil barang bertebaran kemana-mana. Hahaha namanya juga anak kecil, disuruh geret-geret kantong besar mana kuat.

Semakin lama pekerjaan bertambah dan perjalanan ayahku berubah, kini bolak balik Asia dan naik SQ. Singapore seminggu, Sukabumi 2 hari, pindah Malaysia seminggu, balik kembali 3 hari di rumah, terbang lagi kemana. Begitulah, dia berkeliling di SIngapore, Malaysia,Filipina, Thailand, Jepang, Korea, Hong Kong, China. Akupun pernah diajaknya sesekali naik SQ. Senang sekali setiap naik selalu mendapat mainan. Terbawa mimpi dan akupun terbang dalam mimpiku itu berkeliling menjelajah dunia. Kalau dia pergi, oleh-oleh mainan dan pakaian menumpuk 2 koper, hanya untuk diriku sendiri. Merek-merek barang saat itu yang top rasanya sudah biasa dipakai sehari-hari.

Jadi kadang aku bingung dengan anak muda sekarang, baru satu dua tempat pergi wah hebohnya sudah minta ampun. Aku sih hanya haha hihi saja kalau membaca liputan orang-orang itu. Kalau sekarang orang naik SQ gimana gitu, ya sudahlah aku dari dulu sudah menikmatinya. Lah kalau dihitung, jauh sebelum budaya backpacker berjalan jadi hits sekarang ini, keluarga kami sudah menjalaninya berpuluh tahun. Aku saja kalau dihitung dengan pengalaman keluargaku ini mungkin sudah 45 tahun bertualangan. Nah ketahuan deh sudah tuwir tapi semangat muda dan tetap happening toh. xixixi.

Dunia berputar dan tidak selalu di atas, tibalah saatnya bagi keluarga kami berada di bawah. Seluruh perkebunan cengkeh ayahku berhektar-hektar dibakar orang. Ayahku hampir gila karena hampir seluruh tabungan dia dimasukkan kesana dan perkebunan itu adalah kebanggaannya. Ditambah lagi industri perminyakan saat itu mengalami krismon awal sekitar tahun 70-80an. Sehingga kantor dia ditutup. Saat itu aku SMA kelas dua, dan sejak saat itulah aku harus mulai berdiri di atas kaki sendiri untuk juga membantu keluargaku. Begitu seterusnya sampai Universitas dan lulus. Untung bisa selesai di UI jurusan Psikologi, walaupun lama dan penuh cucuran air mata dan keringat.

Aku menggunakan bakatku bermain musik untuk mengajar, mengetuk rumah orang-orang dan mengajar mereka. Tidak semuanya manusiawi, banyak yang memperlakukan aku seperti seorang orang buangan, atau bahkan disamakan dengan pembantunya. Tak jarang aku harus berjalan kaki jauh-jauh dan kehujanan, untuk menemukan orangnya tidak mengizinkanku masuk ke rumahnya. Atau bahkan telat membayar 2-3 minggu dengan berbagai alasan sementara rumahnya bisa 2-3 lantai, pergi tanpa memberitahu dan berbagai hal lainnya. Sudah bukan sekali dua misalnya, banyak yang tega tidak memberikan uang ongkos sementara aku harus menempuh jarak berkilo-kilo meter. Namun Tuhan Maha Baik dan selalu menolong kita yang percaya padaNya.

Berbeda dengan kebanyakan pikiran orang bahwa aku punya uang dan boros segala rupa, aku sangat ketat dengan budget2 awal. Uangku selalu dibagi 4, satu bagian dikirim ke ibuku untuk biaya hidup keluargaku, satu bagian adalah biaya sekolah dan sehari-hari, satu bagian untuk modal kerja / tabungan, dan satu bagian adalah untuk berjalan2. Dengan dimulai gaji awalku mengajar dua keluarga dan mengumpulkan 180.000 / bulan dan beranjak bisa mendapatkan murid sampai sekitar 500.000/ bulan sambil terus sekolah kelas dua SMA dan bisa menabung. Aku jarang bergaul dan ikut kegiatan teman-teman SMA dan Universitas dari awal, bukan karena apa, tapi karena waktuku habis untuk mencari tambahan pemasukan. Dari hasil itulah aku dengan bangga untuk pertama kali bisa bepergian dengan kereta menuju Bali sendiri dan berkeliling Bali dengan uang hasil keringatku sendiri, bukan nodong minta uang sama orangtua.

Kulakukan hal yang sama untuk bisa kuliah di UI, semua dibayar sendiri. Tidak jarang aku harus berjualan apapun untuk memenuhi kebutuhan hidupku. Aku tidak mau mencuri, aku tidak mau melakukan tipu2. bagiku etika kejujuran itu merupakan masih menjadi acuanku, jadilah aku pernah berjualan kartu ucapan, buah2an, pakaian dalam, toiletries, fotocopy, stationery dllnya selama kuliah. Dan ajaibnya selalu ada jalan, walau kadang-kadang aku harus menahan diri menghadapi cemoohan orang, aku cuek saja toh halal.

Dan disinilah kecintaanku untuk bertualang mulai muncul, Cirebon, Jogya, Semarang, Surabaya, Balikpapan, Medan, Lombok, Gili dan lainnya mulai aku jelajahi. Dari mulai naik bis, kereta, pesawat, naik gratisan angkot, berkenalan dengan orang-orang yang tulus di sepanjang perjalanan sungguhlah memberikan energi lain.

Disitulah aku melihat betapa kemiskinan itu real dan ada di berbagai belahan Indonesia. Aku pernah diundang di Gili oleh penduduk aslinya, dan melihat bagaimana mereka makan rumput untuk mengganjal perut, sementara simpanan ubinya diberikan kepadaku. Anak-anaknya yang masih berumur 7 tahun, harus berjalan kaki membawa tabung bambu sepanjang 5 kilometer menembus hutan belantara hanya untuk mendapatkan air bersih. Akupun tak tahan untuk tidak menangis di depan mereka. Hebatnya ketika aku menawarkan sejumlah bantuan uang bekalku yang seadanya, mereka menolak dan mengatakan “kamu sudah mengunjungi kami disini saja, kami bahagia”. Astaga …It’s real people with big heart!

Sejak saat itu misi perjalananku berubah. Setiap kali aku berjalan beberapa persen dari jumlah total yang aku keluarkan untuk biaya perjalanan, aku berikan entah untuk anak yatim, orangtua di suatu tempat, vihara, gereja, masjid apapun, saat kulihat mereka memerlukan. No name, aku tidak memerlukan semua itu. Yang penting aku masih bisa berusaha berbuat lebih baik, kepada orang lain tanpa harus dipuji. Ada kebahagiaan lain dengan memberi, yang tak bisa digantikan uang.

Beda rasanya dengan kita bersikeras memiliki, dan berpelit ria hanya demi selembar 50.000 misalnya, sementara kita bisa makan enak sepiring 100.000. Cobalah berjalan ke Vietnam, Thailand pedesaan, atau Kamboja dan bagikan rejeki teman disana entah 50.000 atau 100.000, atau pedesaan-pedesaan di Jawa atau Lombok misalnya. Lihat kilatan mata mereka yang menyatakan bahwa itu adalah sesuatu yang berharga. Udah langsung lupa tuh gadget 11 juta, tas 20 juta hehehehe. They are human being, yang kadang nggak tahu caranya mencari uang, sementara kita yang diberikan karunia kenapa jadi harus pelit ngitung-ngitung. Rejeki mah nggak kemana, sudah terbukti ratusan kali dengan diriku. Dunia karma itu berjalan otomatis. Tidak jarang aku ditraktir Eropa free (sudah 2x) atau tiba-tiba diupgrade hotel atau tiba-tiba ada saja dapat gratis ini itu. Hidup pelit dan bermurah hati itu berbeda 180 derajat. Yang satu melekat dengan harta, mati juga susah. Yang satu hati ringan bebas dan penuh rasa syukur. Satu hal yang juga kujaga, jangan pernah meminta-minat kepada orang lain.

Sampai satu saat aku penasaran dengan rute luar negri pertamaku. Kalau tidak salah tingkat dua 1988. Akupun mulai mengeksplorasi Singapore, Johor, Kuala Lumpur dan berkelanjutan. Tanpa bekal yang cukup, kadang nekat, kadang hanya mengandalkan intuisi dst. Banyak pengalaman konyol yang menjadi kenangan indah bagi diriku dan aku ingin berbagi disini. Seringkali di balik pengalaman itu ada pelajaran kehidupan dan life skill penting yang bisa dijadikan acuan dan membuat aku lebih lebih bijak.

Setelah bekerja, urusan budgetingku tetap sama. selain membangun aset, belanja (hahaha ini jadi seperti “late bloomer” karena dulu nggak bisa beli yang kuinginkan), makin kambuhlah jalan2ku … akhirnya makin jauhlah aku berjalan … dan sebagian dari cerita perjalanan itu aku bagi disini.

Disinilah aku berbagi bagaimana menjadi Smart Traveller yang tidak harus mengikuti tour yang luar biasa mahal, tidak harus selalu bayar untuk mendapatkan fasilitas orang berlebih, tidak harus bermental miskin pelit hanya untuk bisa jalan dan lainnya. Disinilah teman akan menemukan tips praktis dan teruji yang sudah aku jalani untuk bisa berjalan keliling dunia.

Website ini untuk memberikan teman-teman inspirasi yang dimulai dengan impian dan cara menggapai impian itu. Banyak artikel akan berkaitan dengan suatu tempat wisata yang spesifik, panduan belanja, budgeting dan finansial untuk para petualang, berdasarkan pengalamanku bertualang 32 tahun bukan dengan orangtua.

Semoga terinspirasi

Joe Gunawan