Sawasdikraph … Ucapan pertama yang kukenali ketika mendarat di Bandara Dong Muang (dulu belum ada Suwarnabhum). Akhirnya sampai juga ke negara eksotik ini setelah menabung beberapa lama …
Setelah selesai dengan urusan imigrasi akhirnya kakikupun melangkah keluar bandara. Di tengah hari cuaca yang menyengat, bingung juga mau ambil kendaraan apa ke tengah kota Bangkok. Pertama kali menginjakkan kaki di negara ini puluhan tahun lalu, kondisinya belum seperti sekarang. Belum ada BST, MRT, LRT di Bangkok. Hanya ada taksi dan kereta api dari bandara.
Akhirnya kuberanikan diri naik kereta api. Menyebrang ke seberang jalan dan masuk ke stasiun kereta. Maklum waktu itu masih baru pertama-tama bekerja dan budget sangat limited. Jadi harus cari yang semurah-murahnya. Umur juga berperan, masih 30 kali…
Keretanya sama dengan kereta Jabodetabek. Hanya kondisinya lebih bersih. Beda dengan KRL Depok, kalau pagi isinya ada kambing dan berbagai macam sayuran. Hehehe. Kita juga bisa duduk berselonjor di kereta dan akupun duduk dengan bule-bule lainnya. (Gue mah bule Depok). Setelah beberapa stasiun akhirnya sampai juga di Hualamphong stasiun pusat seperti Gambir di pusat Jakarta. Kamipun beranjak meninggalkan stasiun. Hualamphong itu stasiun tua mirip dengan Jakarta Kota dengan kubah-kubah besar. Bedanya adalah kebersihannya. Walau bangunan tua tapi masih lebih terpelihara dibandingkan Stasiun Kota.
Jaman dahulu internet masih susah, hp belum juga dimana-mana, di semua tempat tulisannya tulisan Thai kan, dan orang hanya berbahasa Thai. Akhirnya dengan bahasa Tarzan campur Inggris sepotong dapatlah deal dengan tukang tuktuk. Tuktuk itu semacam bajaj di Jakarta, hanya ukurannya lebih lega. Karena malas nawar disepakati tour satu hari 1.000 Bath. (Saat itu kurs 1 B = 150) . Termasuk mahal karena untuk backpacker hotel saja biayanya B 150/ malam. Jadi otomatis tuh sudah keluar biaya 6 malam hahahha. Biarin lah daripada kemana nyasar kan mending punya guide buat antar2 satu hari. Sementara tak tahunya bus hanya sekitar B 10-15 saja kemana mana.
Saat itulah baru kusadari, aje gile ni si abang nyetir udah kaya naek boom boom car, jebret naik ke trotoar sana, belok mau nabrak yang jalan, lalu berkelit hiat dari kiri zig zag ke kanan. Jantungan juga sih awalnya. Nggak bisa lihat jalur kosong, serbuuu. Sampai tas ranselku aku pegang erat-erat daripada terbang. Aku langsung mikir aduh kalau aku bunting gimana ya ? Langsung beranak kali dalam perjalanan. Hahaha rupanya itulah cara mereka menyetir, memang khas supir tuktuk Bangkok. 20 menit perjalanan untungnya nggak salto atau nyebur kali itu tuktuk.
Tuktuknya biru pinggirnya, tapi di dalamnya ramai dengan lukisan. Seperti lukisan kutunggu jandamu di truk kita itu loh. Plus dengan sajen, kaca dan rangkaian bunga kuning, putih. Sepanjang jalan dia mencoba berkomunikasi dengan aku, entah apa bahasanya, Inggris tiada bergrammar, yang penting sama sama mengerti. Kadang nanya cuma where titik lalu nunjuk-nunjuk. Nanti nanya neim neim (name maksudnya), dan lain-lain. Enak loh gak mikir grammar jebret aja go go go, walking walking walking gitu. Jadi aku sembari pegangan, pegang tas pula, jawab pertanyaan dia. Eh dia malahan asik ngobrol, nanti kepalanya lihat ke aku ke belakang, tangannya dilepas dari setir buat ekspresi bahasa tarzan, hahaha, sementara aku sudah panik itu di depan ada mobil dari arah berlawanan hahaha, waduh tuh setir tidak dipegang. Untung nggak tremor turun dari tuh tuktuk.
Akhirnya sampailah di penginapan backpackerku YMCA namanya. Kalau tidak salah daerah Bang Lam Phoo. Si tuktuk itu janjian lagi nanti jam 4 mulai tour keliling kota. Lalu aku ditinggal.
YMCA disana berbentuk dormitory dengan 4 orang penghuni per kamar. Di kamarku saat itu, kalau tidak salah 2 dari Jerman, 1 dari Amerika, dan aku sendiri Indonesia. Senang juga berkenalan dengan orang-orang dari berbagai negara. Kalau dulu orang-orang biasanya jadi ngobrol satu sama lain dan bertukar kiat perjalanan, kalau sekarang rata-rata sibuk dengan gadgetnya masing-masing.
Kamar mandinya berbagi dengan penghuni lainnya.
Setelah mandi dan makan siang, dan selesai istirahat, jam 4 teng rupanya si tukang tuktuk sudah setia menunggu di luar. Setelah mengucapkan salam akupun memulai petualangan hari itu mengelilingi Bangkok.
Tetep gelo nyetirnya seruduk sana seruduk sini, cuma sekarang sudah biasa. Rute pertama adalah mengunjungi Grand Palace, dan Wat Po dimana ada Buddha tidur. Wah no comment dah lihat sendiri deh hahaha pokoknya keren.
Berikutnya masuk ke pasar dekat situ. Seru juga pasarnya dan herannya sampah tidak terlihat jorok seperti di Indonesia. Banyak tersedia buah-buahan dengan harga murah, makanan asik-asik, juice, gorengan, sampai kosmetik tradisional. Itu ada bule jadi korbannya. Mukannya dibedakin sampai celemongan nggak jelas, eh masih dibilang beautiful beautiful sama yang ngedandanin, dalam hati gue udah gatel pengen komentar, apanya yang beautiful ya lo celemongan kaya kuntilanak gitu hahaha. Duh wanita dimana mana sama, beauty is a pain. Muka dicemol cemol tarik kiri kanan gitu mau aja pake produk gak jelas. Hahaha. Lanjut ya perjalanan.
Masuk ke daerah namanya Wat Mahathat, yang suatu waktu akan menjadi titik balik terbesar dalam kehidupanku. Duh sepanjang itu jualannya jimat, patung-patung Buddha, makanan, restoran tradisional dengan baunya yang wangi, kue-kue tradisional, majalah koran thai dan banyak lagi. Banyak juga penjaja jimat berjejer sepanjang jalan. Ada yang berupa tulisan, patung , kalung, rajah dan lainnya. Seru untuk foto. Sesekali nampak beberapa Bhiku hilir mudik disitu. Rupanya disitu memang pusat tempat tinggal Bhiku. Dan ada juga tempat meditasi internasional, seperti ashram si India.
Perjalanan dilanjutkan melalui beberapa area, Khaosan Road tempat para backpackers seluruh dunia tumplek blek disana, lalu akhirnya kita menuju Victory Monument, suatu daerah lapangan lingkaran dengan monumen di tengahnya dan sekelilingnya jalan raya. Dan berakhir di daerah Siam Square. Langsung suruh stop itu tuktuk. Nanti jemput lagi 2 jam. Hahaha. Ya karena disitu menjadi daerah pertokoan. Ada Ma Bong Khrong atau MBK, ada Siam Discovery, Siam Central dan lainnya.
Setelah puas melihat daerah tersebut, kami pindah ke area Patpong. Wah nganga deh untuk pertama kalinya melihat pasar malam diselang seling dengan atraksi seronok kiri kanan club club. Baru saat itu sadar haduh dunia tidak selebar daun kelor. Itu yang katanya negara budhisme tinggi tapi cuek saja punya club club malam penuh dengan wanita setengah bugil menari di atas meja. Saingan dah toket si Amsterdam di Red Area Disctrict dengan di Patpong sini. Jadi pertanyaan saat itu di kepalaku batasan moralitas jadinya sampai mana ya ? Kok bisa dua dua berjalan berbarengan antara Budhism dan Susu di Bangkok dan hepi-hepi aja tuh. Mana yang surga mana yang neraka, nggak jelas haha.
Itu pasar malamnya ampun dah … Semua barang tampak eksotik (maklum pertama kali, 10 x kesana mah udah mati rasa ngapain pula gue beli lampu meja sepuluh biji, sama kaos bertulisan Thai 20) hahaha. Jadilah borong kan, ingat ni baru hari pertama loh. Bawaan mungkin sudah nambah 3 kilo. Setelah lelah akhirnya cari makan.
Eh dibawanya aku ke restoran pinggir sungai, keren sih. Dasar udah lelah aku main order saja tanpa lihat berapa harganya. Pas mau pulang disodorin lah bon, B 1.600 halah … Bangkrut dah hahaha hanya bawa B 10.000 sudah keluar 2.600 dan 1.000 untuk hotel. Buset deh, belum belanjaan kalap itu ya sisa palingan 4.000 an
Nah disitu jadi pelajaran ya kalau mau makan makan tanya dulu harganya. Dan kadang untuk ukuran kita murah disana mungkin masih kemahalan.
Akhirnya dengan badan lelah pulang deh ke hostel. Langsung mandi dan tidur.
Besoknya minta transfer uang sama adikku. Hahaha.
Ada yang berbeda dari Bangkok dibandingkan Indonesia. Masyarakatnya lebih ramah dan hormat dibandingkan disini. Selain itu banyak sekali pilihan barang, serta biaya hidup lebih murah dibanding disini. Belum lagi makanannya asik semua. Sejak saat itulah aku memutuskan itulah negara pilihanku untuk berlibur selanjutnya. Dan ternyata benar, semakin sering menjelajah Thailand semakin banyak menemukan spot menarik dengan harga sangat terjangkau disana. Bayangkan pernah juga mendapatkan hotel dengan fasilitas bagus hanya membayar $10 semalam. Top deh. $15 itu bisa mendapat hotel dengan full breakfast makanan Eropa di daerah Rambuttri. Ongkos ke Jepang seminggu bisa satu bulan tinggal di Thailand.
Nanti kusambung lagi ya…

Photo via 1