Satu saat aku mengadakan perjanjian Gianti dengan salah seorang kakak temanku untuk pergi jalan bersama ke Malaysia. Wah persiapan sudah heboh dah, dari 6 bulan sebelumnya. Pokoke oce.

Saatnya tiba, aku dari jam 4 pagi sudah meluncur dari Depok tempat kosku. Maklum penerbangan jam 7 pagi kan, jadi paling tidak jam 5 aku sudah harus di bandara.

Jam 5 teng ok masih tenang, ni orang kok nggak ada, ya sudah paling masih di jalan, jam 6 duh gak ada juga, udah boarding, jam 7 di dalam pesawat … Sampai tuh pesawat mengudara, kosong saja kursi sebelahku. Eh gelo.

Sampai di Batam, langsung cari telepon koin dan telepon Jakarta, tidak ada yang jawab duh … Gitu deh berakhir dalam duka, 2 jam menunggu di Batam, akhirnya kuputuskan ke Singapore sendirian. Gila lah yau baru mau ke Singapore, lah ke Malaysianya belum. Maklum rute awalnya adalah menuju Malaysia Kuala Lumpur bukan di Singapore. Jadi aku harus bergegas mencari feri pada jam terdekat dan pergi ke Singapore.

Perjalanan dengan Feri berjalan lancar tiada hambatan, dan akupun tiba di Harbour Front Singapore. Setelah celingak celinguk sana sini dan bertanya-tanya akhirnya kudapatkan nomor bis yang mengarah ke arah Rochor Road. Rochor Road adalah satu jalan di daerah Bugis, saat itu rute MRT masih belum sebanyak sekarang, sehingga sebagian daerah di Singapore harus kita capai dengan bus kota. Tapi akhirnya kuputuskan kuambil ke arah Orchard dulu busnya. Ndak jadi dah ke Rochornya.

Perjalanan dengan bus kota menarik juga, maklum dari Jakarta pada awalnya lalu melihat daerah-daerah baru di negara baru pastinya berkesan. Kesan pertama yang didapat adalah dimana mana hijau, bersih, teratur dan disiplin. Itu sekitar tahun 1988an … Jadi bisa dibayangkan 20 tahun yang lalu budaya orang Singapore soal kebersihan sudah tertanam. Mereka juga terbiasa semua mengantri ke belakang. Beda dengan kita, kalau kita mengantri adalah ke samping. Dan masih berlaku sampai sekarang. Lihat saja kalau naik bus kota, pasti masih rebutan dan semua berjejer ke samping. Kalau kita berjalan di jalan raya, maka budayanya adalah berjejer ke samping sampai memblok jalan, bukannya berbaris ke belakang.

Perjalanan dengan bus tidak menemui hambatan yang berarti, hanya saja karena tahunya Orchard yang paling terkenal, akhirnya naik bus mengarah ke Orchard bukan di Bugis. Aku pikir biarin dah sekalian menunggu juga kan bisa jalan-jalan dulu. Lagipula sudah kebelet pipis. Sejak perjalanan dari Batam yang diwarnai adegan saling menunggu yang tiada jelas kabar berita, aku sudah berjibaku menahan kencing.

Sampai di Orchard, saat itu tidaklah penuh dengan pusat perbelanjaan modern seperti sekarang. Salah satu yang terkenal adalah Lucky Plaza. Tahu kan Lucky Plaza. Pada jamannya dahulu kala itu terkenal sekali tempat untuk membeli kamera dan gadget, selain juga tempat koper dan tas-tas.

Setelah turun dari bus, akupun berlari-lari di Lucky Plaza. Tujuannya tentu saja mencari wc terdekat. Waduh kalau masih ditahan lagi bisa-bisa aku ngompol kali di celana. Hahaha. Lumayan juga tuh 1 jam lebih menahan pipis sejak di imigrasi Harbour Front. Tidak terpikir juga untuk mencari wc disana, karena pikiranku takutnya temanku itu datang duluan dan dia nyasar di Singapore. Dia pernah bilang bahwa ada temannya di Lucky plaza. Makanya aku jadi berubah pikiran mengarah situ saja.

Susahnya pula, saat itu tiada telepon genggam seperti sekarang. Kebanyakan telepon masih telepon kartu dan telepon koin. Sampai di dekat wc, ternyata ada telepon koin. Akupun berusaha menelepon ke Jakarta dengan koin yang ada seraya jungkat jangkit menahan kencing. Tahu kan posisi orang menahan kencing takut beser. Pokoknya sambil nelepon aku sudah berubah gaya 7x7, sampai tujuan nggak maju-maju. Kadang kaki melipat ke depan ke belakang, kadang diangkat satu, kadang belok bentuk segitiga, kadang goyang cukimai maju mundur. Itu tas ransel sudah aku drop saja di bawah. Daripada berat. Pokoknya tarian ular dilakukan sembari menelepon demi menahan kencing. Entahlah …
Sedapat mungkin tidak pipis di celana.

Eh ni orang, dasar sableng ya, ditelepon ke rumahnya tidak ada juga. Waduh wasalam mualaikum itu mah. Sementara hari juga menjelang sore, aku masih terdampar kebelet pipis sambil nelepon, tidak punya penginapan di Singapore, dan perjalanan masih jauh pula ke Malaysia.

Wah pokoknya saat itu di kepala, semua dukun sudah dipanggil, mau dukun beranak, dukun santet, dukun cinta, dukun galau semua gue panggil diiringi sejuta sumpah serapah. Kalau ada boneka vodoo aku langsung jampe-jampe dah. Gila dah bikin rencana 6 bulan, tuh cewe kagak nongol-nongol. Kan aku yang stress, jangan-jangan ni cewe salah mendarat di negara lain kan berabe. Mana itu perjalanan pertama dia keluar negri. Kan gak lucu kalau dia sampai di Zimbwabwe.

Dengan masih dalam keadaan tidak konsentrasi, akupun menutup telepon dan terbirit-birit masuk ke wc. Nggak babibu lagi begitu sampai wc, tuh celana langsung aku perosotin hahahah. Porno aksi. Yang penting bisa langsung ser ser dug dug ser. Sementara pipis aku baru mikir itu wc kok bentuknya kloset semua ya kiri kanan dan berkamar-kamar. Dan di ujung sebelah sana kok ada emak-emak tukang beres beres merepet habis dalam bahasa Cina. Tang ting tung tang ting tung. Wah korslet ndak ngartos. Tang ting tung tang ting tung. Wah gue sembari pipis nyengir nyengir saja sama dia dari balik pintu. Pintunya gak kututup pula. Eh dia malah makin merepet panjang lebar. Untung nggak kudadahin, hihihi aku kan suka dadah dadah. Lagipula kalau aku dadahin gimana mau pipisnya? Lah megangnya pake apa ? Hahaha.

Eh si nenek bekatul itu, keluar dari wc makin merepet. Wah aku kan tidak merasa berdosa dong, sudah pipis pada tempatnya yang halal bukan haram. Tidak pipis di pohon depan Lucky Plaza kan, atau ngangkang di halte bus Orchard kan. Kebayang nggak kalau aku jadi ngangkang di halte bus Orchard ? Nah setelah melampiaskan nafsu pipisku yang berliter-liter tiada henti itu lega deh … Akhirnya seraya membereskan celana akupun keluar dari toilet.

Edodoi … Hellow keluar dari wc, sejuta penderitaan tumplek blek menghadang. Aku dicegat polisi wanita. Haaaa??? Langsung digiring ke pinggir jalan depan wc dan diinterogasi. Waduh … Cilaka ini mah… Kenapa ya … Beneran digiring dah hahahhaa.

Tuh polisi cewe India, Lumayan tinggi dan mukanya mirip penyihir. Rambutnya keriting gitu, kulitnya mana hitam pula. Amsyong dah pokoknya. Mana bawa pentungan pula sama borgol. Untung aku belum diborgol.

Dia langsung interogasi namaku, umur, pekerjaan, ngapain di Singapore, mau kemana dan bawa uang berapa. Duh mampus deh ni, udah mulai pucat tampias juga aku salah apa ya … Dia bilang aku kena denda / fine $500. Wekssss … Dunia seolah runtuh … Waduh cilaka ini mah gue gak salah kok, kenapa pula mau didenda. Mana gak kepikiran pula saat itu menghubungi kedutaan dong. Udah panik teman ilang, panik urusan pipis memipis, perjalanan masih bujubune ke Malaysia, ini malahan mau ditangkep di Singapore pula, dan tak ada orang yang bisa kukontak disana.

Akhirnya paspor aku dicek sama dia. Aku bilang aku dari Indonesia dan ini baru pertama kalau kesini, kan aku sah masuk sini, kenapa harus difine. Dia bilang kamu itu sudah masuk wc wanita dan buang air disana. Lihat itu tandanya. Hehhh??? Serentak akupun menoleh, eh iya juga ya aku salah masuk. Hahahaha. Pantesan tuh nenek cibaduyut merepet abis. Rupanya dia yang ngelaporin karena aku nerabas masuk wc wanita. Mana kuingat, orang pengen pipis, disuruh mikir ada tanda gambar wanita ketutupan begitu.bLangsung muter otak gimana cara lepas. Lumayan $500. Waduh nggak deh. Duit aku aja pas-pasan mana ada $500. Palingan $300 total.

Akhirnya aku bilang gini aja: “Sorry mam, di Indonesia itu nggak ada wc kaya gini. Aku baru tahu dan baru lihat ada wc dipisah-pisah.”Hahaha. “Makanya aku masuk saja, karena kalau di Indonesia pria wanita kencingnya barengan. Nggak ada tuh acara pada pipis sendiri.” Hihihi.

Wah dia langsung kebingungan, dibolak balik lagi paspor aku. Bolak balik juga lihat mukaku. Lah aku udah pucat pasi, mana ada cakepnya dilihatin cewe india begitu. Dia bingung kali denger cewe cowo di Indonesia pipis barengan. hihihi.

Iya aku lanjutin, makin berani ngaco. “Yes mam, aku kagum sama Singapore, maju ya, punya wc bisa dipisah begini. (Building trust dan empower self confidence dong ala assesor sama kliennya). Aku baru tahu loh di Singapore cewe ama cowo pipisnya nggak barengan ya”.

Dia malah balik nanya: “Really?” Sembari makin bingung. Aku jawab lagi : “Iyalah kan budayanya beda, dan negara aku ketinggalan kalau soal wc. Disana aja masih ada wc tanah kok cuma pakai bambu, lah disini udah pakai building” Hahahahahaa. Lah nggak boong kan aku. Kisah nyata emang di desa kan gitu. Wah dia sembari bingung dia makin bangga juga tuh sama negaranya. Dipikir hebat ya wc negaranya keren dibanding Indonesia. Wkwkkww.

Makin aku nekat dah.
Sembari nyembah nyembah dia,tangan aku diacung-acung kaya mau minta angpau, aku bilang “Sorry very sorry. I am coming from under development country, you have to understand. We do not have a kind of toilet technology. I do not know this awesome toilet. This is first time for me using the toilet” Hahahhaahhaa.”Dan di Indonesia itu wanita itu kalau kencing sama berdiri loh seperti pria.” Wah dia makin terbelalak. Takjub…… Dia mau ngomong sampe gagap nnng … Nnngggg… “What…???”

“Iya kadang kita balapan kencingnya jauhan siapa” (hahaha memory masa kecil lagi dibawa, kan suka balapan pipis wkwkwkw). Dia makin bingung, entah pusing dengar penjelasan gue, entah takjub, entah mikir apa. Disitu dia jatuh hati padaku hahahhaa. Tapi aku kan memasang wajah polos tidak berdosa di depan dia. Hahahaha.

Pasti di kepalanya dia lagi membayangkan wanita di Indonesia setara bo dengan pria, pipis aja berdiri. Berdiri sama rata, ringan dipikul, berat suruh cowonya yang bawa. Hahaha.

You know… Saking dia bingung dan bangganya kali ya sama Peradaban Singapore nya yang lebih maju dibanding dengan Indonesia, karena dia punya wc building itu, akhirnya dia bilang: “Ya sudah karena di negara kamu tidak ada wc seperti ini, dan budaya kamu berbeda, dan kamu baru pertama ke sini (paspor aku baru tuh, padahal sebetulnya beberapa sudah kesana di paspor lama), kamu saya bebaskan.” Amin amin malaikat bersorak sorai di surga memberikan berkat lilahi taala.

Aku kan masih ngeleper juga, jangan jangan dia ngetes ni. Aku bilang, “Wah terima kasih, sorry sorry banget yau, terima kasih sudah mengerti, (sembari tetap ngacung-ngacung tangan) jadi aku bebas ni.

Ya dia bilang you can go now.

Wah amin dah, langsung jalan sembari tiga kali masih ngadep dia gong xi fa choi – kiong hi – kiong hi nyembah nyembah sorry sorry. Dia makin bangga dengan dirinya dan peradaban wcnya yang maju.

Ahahahaaa tiga kali balik ngadep dia, abis itu aku jalan cepat ngabur secepat-cepatnya. Sampai jarak 100 meteran aku cek lagi dia masih ada nggak. Eh dah gak ada. Amin berarti selamat nggak jadi dipenjara.

Eh setelah pulang ke Indonesia aku kontak temen aku yang gila gak muncul itu. Tau jawabannya apa ?

Ya telat bangun, jadi dari Pamulang ke Suta baru berangkat jam 530. He??? Lah pesawatnya saja berangkat jam 7. Iya katanya dia pikir itu kaya bis kota bisa nungguin penumpang.

Ya aloh ya robi. Tepok pantat berirama ini mah bukan lagi jidat. Naek pesawat kok disamain sama naek bis kota. Lalu katanya iya begitu sampai bandara sudah pergi pesawatnya. Tadinya kan mau nyusul kamu, tapi ternyata ditolak di penerbangan berikut. Ya iyalah dang ding dong. Nenek nenek lomba loncat kodok dua ratus meter juga lo kagak bakalan dikasih naek pesawat. Tuh itu entah IQnya yang ketinggian atau celana dalamnya belum dijahit ya. Aku lupa ngecek celana dalemnya soalnya hahahaha.

Nah itu kisahku ya, jadi kadang kalau dalam kesulitan di luar negeri otak kita harus cepat mengambil keputusan dalam saat genting. Walau kadang pendekatannya agak nyeleneh yang penting selamat dunia dan akhirat. Hahaha

Nah cerita ini akan berlanjut dengan perjalanan lanjutannya ke Malaysia. Ditunggu ya.