Berjalan sendirian vs berjalan dengan teman sungguh beda rasanya. Pernah mengalami ? Aku sih sering bersama berbagai teman berkeliling. Memilih teman seperjalanan melalui media sosial itu gampang-gampang  susah. Kadang kita tidak tahu karakter teman  seperti apa yang gabung jalan dengan kita. Dan orang biasanya karakter  aslinya, baru keluar saat bertualangan.

Untuk sharing dan bisa membayangkan bagaimana kita bisa memilih teman yang tepat, ada beberapa kriteria :

1. Orangnya minimal sudah kenal agak lama sehingga kita tahu karakter dasarnya.
2. Jangan cari yang kaku, bisa kejedot sendiri kita kalau dapat orang seperti ini
3. Flexible, mandiri dan bisa jalan sendiri juga tanpa tergantung terus menerus.
4. Keuangan stabil / mencukupi, paling tidak dia memang punya uang yang cukup untuk jalan. Jangan jadi  beban kita. Lupakan jalan dengan orang yang maunya semua kita yang bayarin. Lah kadang ada orang-orang kaya yang tidak mau  keluar uang  loh. Kalau patungan semua uang harus dipakai dia. Ada  tuh yang seperti itu.
5. Bisa mentertawakan diri sendiri kalau ada apa-apa dengan kesulitan. Ini kriteria penting karena kalau orangnya stressan gawat acara jalan kita.
6. Nggak libet, pencemas, stressan atau parno.
7. Saling menolong.

 

Nah untuk membayangkan seperti apa itu, aku berbagi pengalaman disini.
(Ini merupakan prolog pendek dari berbagai artikel berseri yang akan aku  buat untuk membahas perjalanan dengan masing-masing teman. Lucu, Ajaib dan Seru … Ikuti terus petualangan ini ya…)

Lifina teman seperjalananku yang heboh. Orangnya asik diajak ngobrol dan berwawasan luas, maklum dosen. Kami bertualang ke Aonang, Khrabi di Thailand menerobos hutan belantara, dan  setelah 5 hari, berakhir  aku tumbang masuk RS di Khrabi. Dan itu perjalanan kembali ke kota, berlangsung  3 jam, melewati tengah hutan di jam 2 pagi dengan mengendarai tuktuk, karena tidak ada kendaraan saat itu. Salah satu perjalanan yang berkesan dan bikin aku teler. Nyaris mati saat itu. Disitu baru ngeh, dalam artian, sependek  apapun perjalanan,  jangan lupa apply travel insurance ya dan punya temen yang memang bisa saling menolong. Pentinggg… jangan seperti aku,  sampai masuk  rumah sakit di negara orang, dan tidak punya asuransi perjalanan. Untung ada dia  juga tuh, my angel. Perjalanan lain dengan dirinya adalah menyelusuri Jom Tien Beach Pattaya, dengan berbagai kepikunanku ketinggalan barang.

Susan adalah teman bentuk lainnya yang merupakan soul mate. Pernah dapat teman seperti ini ? Kadang-kadang, aku pikir dia  ini mungkin pecahan jiwaku yang lain jaman reinkarnasi dulu. Soalnya bisa sama-sama kepikiran satu hal yang sama padahal kita berjauhan. Sudah seperti kembar siam. Believe it or not. Tanpa janjian kita bertemu di satu tempat  di luar negeri, dan dia memakai baju yang sama warnanya. Lain kali gigi kita copot bersamaan, di tempat yang sama. Waktu lainnya  mobil kami sama-sama  tepat di bagian yang sama, ditabrak di kota berbeda, dalam rentang waktu yang nyaris berdekatan. Ketika dia menelepon diriku, saat itu aku sedang mau menelpon dirinya, dan ceritanya sama.  Juga puluhan lainnya yang seperti kebetulan, tapi bisa sama. Aneh bin ajaib.

Dia orangnya  cinta mati sama aku, Hahahah, semua apa yang kukatakan nunut aja. Kadang-kadang suka nggak pake otak juga nunutnya. Hahahah jadi aku suka gangguin, eh ke kamar mandi dah. Nanti dia nurut, hahaha padahal aku kerjain. Suruh loncat kodok juga ikutan hahahhaa. Aku kan suka jail hanya untuk mengetes reaksi orang. Kalau orangnya cerdas, dia bisa membedakan kapan aku serius dan kapan tidak.  Kalau yang kurang IQnya, biasanya mereka akan marah-marah.

Hobinya berpetualangan di belantara pertokoan dan menjalin cintrong dengan berbagai pria, qiqiqi. Nah ini hobi yang kadang  bikin aku pusing. Tiba-tiba menghilang dan ujug-ujug sudah dapet kenalan baru. Kami bertualang bersama ke Hong Kong. Petualangan lainnya adalah di Singapore dan juga berkeliling di Jakarta, Bogor, Bandung.

Bambang adalah newbie backpacker yang sakit kepala kalau jalan dengannya. Aduh banyak sekali maunya dan semua tempat harus seperti Bandung kota tempat dia tinggal.  Ada pengalaman dengan orang seperti ini yang selfish, keras kepala dan tidak mau tahu budaya orang ? Ada loh orang-orang seperti ini. Wow ajib dah yau. Maklum tidak pernah kemana-mana keluar negeri, jadi semua harus diukur sama frame of referencenya. Kami bertualang  Thailand dan mengunjungi beberapa kota disana. Cukup 4 hari jalan dengan dia, karena aku langsung keleyengan kalau ngobrol dengannya. Semua didebat dan dikembalikan harus seperti Bandung atau Indonesia. Selain itu juga keleyengan dengan bau keteknya. Hahaha. Buset deh, tuh orang bau ketse dipiara. Disuruh mandi dan merawat badan ogah. Sampai di dalam pesawat, jarak 3 meter kali kecium baunya. Pada pingsan kali tuh orang-orang di sekelilingnya. Aku saja sampai pindah tempat duduk. Karena aku alergi, lah nyium bau ketse sendiri aja bisa bengek, apalagi nyium bau ketse orang. Hahahah.

Duh ngapain lo jalan keluar negeri ya kalau semuanya jadi Bandung. Hahahaha. Lihat bandara Suwarnabhumi dibilangnya jelek. Lihat orang Thailand dibilangnya jelek. Lihat Grand Palace komentarnya pengen nabok itu, kaya Istana Merdeka katanya mah. Belum pernah ngerasain disantet orang Thailand senegara kali ya. Pokoknya tidak ada yang bagus di mata dia. Aku rasanya pengen nonjok di awal-awal. Mungkin over minderwardegheit hahhaa (kurang PD banget gitu loh bahasa gaulnya). Ini tipe traveller yang tidak bisa membuka otak dan belajar dari dunia luar. Jangan minta jalan keluar negeri kalau tidak mau buka otak dan mata. Intinya doi lebih baik suruh aja travelling  ke pasar Cihapit di Bandung sono beli ikan asin. Tampaknya lebih cocok.  wkwkwkw. Nanti aku cerita lebih banyak pengalaman bersamanya. Wah ini satu-satunya perjalanan yang ruwet dengan orang yang ruwet. Masalah kecil bisa jadi drama queen dia.

Martin adalah temanku gaul dari mulai lulus kuliah. Orangnya ancur mina dah, kalau jalan sama dia bisa ketawa terus dari awal hampir akhir. Kami bertualang dari Malaysia dan Singapore dengan menggunakan bus antar kota dan kereta. Dia seorang filsuf dan avid reader (rakus bacaan). Pintar berpuisi dan juga menirukan orang. Kita berdua bertualang dengan uang pas-pasan, dan saat terakhir kita pulang kita kehabisan uang di Singapore dan berakhir memesan semangkuk bakso, dengan patungan uang receh, di bandara. Hahahaha. Lalu seperti sepasang kekasih, kami makan bersama …, minta mangkok  kosong  lagi, dibagi dua baksonya. Dengan mesranya. Karena merasa nelangsa kehabisan uang. Sembari meratapi nasib.

Sejak itulah kami bersumpah setia, Sumpah Palapa Persatuan Indonesia, intinya : bosen miskin deh, kudu punya duit banyak buat jalan-jalan. Diiringi dengan melahap semangkuk baso dan bersumpah, juga menangis bersama, kepedesan kebanyakan cabe. Dijah mellow banget dah Wkwkwkw. Duh jalan dengan dia ajaib juga dah seru dan cabul. Eh salah ya hahahaha… Seru dan menakjubkan. Dia bisa tuh mendapatkan ide bizarre untuk melakukan sesuatu yang kadang diluar akal sehat hahahaha. Pose fotonya kadang-kadang tidak bisa dipahami manusia biasa. Hahaha. Ada gaya duyung disalib, ada gaya babi ngepet. Pokoknya ajaib dah.

Teman lainnya yang juga  pernah berjalan denganku adalah Tono. Tono juga sama orang jahil dan dia bisa menirukan  bencong-bencong Thailand tepat sekali. Kalau sudah jalan sama dia, aku lupa diri dah ketawa terus. Semua orang bisa dia tiru dengan gayanya yang sendiri, selain pas juga bisa berlebihan. Dan selalu saja ada komentarnya yang pas mengenai orang yang lewat di depan kami. Kebayang kan dia dengan kumisnya yang tebal dan garang bisa menirukan orang.

Itu superduper wonderful person. Namanya sudah kuganti Tonce Similikitong. Hihihi. Pas bener sama dia. Cuma kadang-kadang kalau sudah berlebihan, aku harus senggol dia supaya nggak komen macam-macam. Malu juga kadang-kadang, mungkin otaknya korslet kurang lima nomer sehingga terlalu kreatif.  Padahal aku sendiri sudah korslet 2 nomer. Semua orang yang lewat,  bisa jadi bahan celaan dia, dan bisa sangat lucu sekali. Ada saja dia bisa menemukan sesuatu yang lucu pada setiap orang. Padahal dia akuntan, cuma matanya lebih jeli dari aku yang psikolog.

Cuma kadang-kadang suka sebel juga semuanya dihitung pake neraca hahaha. Beli celana pendek saja bisa dihitung laba rugi. Keburu kelamaan nunggunya,  aku yang belanja dah hahaha.. Setelah perjalanan pertamanya dengan aku, akhirnya dia malah ketagihan jalan-jalan. Padahal, janjinya hanya the one and only saja sudah cukup. Hihihi.  Ya iyalah, kapan lagi dia dapat perjalanan serba ok, dengan biaya terjangkau dan bisa belanja banyak dengan guide dadakan. Hahaha.  Kami bertualang ke Hong Kong dan Singapore.

Dia orang Medan, jadi kadang dengan gaya bataknya mengomentari orang itu aduh benar-benar  super ajaib sekali. Tahu kan orang Medan kalau bicara. Selain itu, kami pernah berjalan ke Pulau Tidung yang dipenuhi derita kembalikan aku pada orangtuaku dari awal keberangkatan sampai terakhir pulang.

Kami  juga tertahan di Singapore, karena nama dan muka dia serupa dengan daftar teroris di Singapore. Walhasil aku menunggu dia keluar dari karantina, 2 jam… Aku yang deg-degan di luar dengan panik, waduh ni orang kemana,dan kan aku tidak boleh masuk lagi ke daerah imigrasi. Untungnya dia boleh keluar. Beberapa kali dia berjalan ke Singapore selalu mendapat masalah yang sama, jadi dia agak alergi dengan Singapore.

Dewi L. Dia ini snobbish sekali, maklum anak pejabat. Asik juga diajak ngobrol tapi hobinya barang mewah.  Kadang-kadang ajaib juga bisa temenan sama dia. Untung orangnya punya otak minus 2 nomor juga, Jadi kalau becandaan denganku dia bisa respons  dengan cepat. Karena terbiasa dengan kemewahan, jadi kalau aku bawa ke tempat backpacker dia bisa bengong-bengong. Dia tidak mengira ada dunia lain seperti itu. Hahahah. Sekali waktu aku ajak blusukan di Thailand sampai ke desa-desa dan pulau-pulau. Habis itu dia ketagihan bolak balik sendirian, wwkwkwkwkw. Padahal dia spesialis Eropa dan Amerika dan selalu tour mewah. Nggak pernah terpikir olehnya dengan biaya terjangkau bisa dapat banyak hal, tempat menarik, dan souvenirs dari Thailand.

Manfred, Jerman asli. Kami berkeliling ke beberapa kota di Jerman dengan mobilnya. Seru sekali. Dia seorang petugas negara yang sangat terobsesi dengan Indonesia. Malu kalau lihat koleksi Indonesianya. Semua berita politik dari Indonesia dia klipping berdasarkan judul dan dikatalog. Jadi di apartemennya, satu ruangan berisi rak-rak kliping dia. Nanya apa saja tentang Indonesia dari mulai perjuangan kemerdekaan sampai terkini, dia tahu. Orang-orang Jerman kan begitu, kalau mereka sudah senang satu hal belajarnya gila-gilaan, sampai mendalam. No wonder dah dari sana banyak filsuf pemikir. Kalau ngobrol  dengannya, aku bisa berdebat habis mengenai berbagai hal. Tapi itulah, beda budaya beda kepala. Kalau naik mobil kita bisa membahas berbagai hal. Senang juga sih walau kepala cenat cenut kudu menggali pelajaran sejarah Indonesia. Di sisi lain pulang, aku jadi makin pintar. Hahahaha. Selain itu, dia  juga fotografer. Jadi sekali jalan dengan dia, dia bisa mengambil ribuan gambar. Dan setelah pulang , dia buat katalog di komputernya.

Pengetahuannya mengenai kota-kota di Indonesia lunar binasa. Dia bisa menceritakan dengan detil isi kota itu, yang aku saja tidak tahu ada dimana itu kota. Ada sekitar 200 kota di Indoensia yang sudah dia kunjungi. Waktu dia ke Indonesia, aku ajak keliling ke Cibubur saja. Dia senang sekali menemukan ada Sphinx dan Colosseum disana. Alhasil selama 2 jam, kami hanya berkeliling memotret saja. Jadi jangan salah ya, orang-orang asingpun mereka akan senang sekali kita perkenalkan budaya dan tempat-tempat menarik yang bagi kita biasa saja. Bagi mereka itu bisa eksotik, nggak usah selalu Bali. Kali lain dia datang, dan rute perjalanan satu hari dengan dia adalah mengunjungi berbagai gereja di Jakarta. Wah seru loh, aku saja jadi tahu banyak mengenai berbagai gereja karena dikasih tahu dia. Dan hebatnya dia lebih tahu Istiqlal dan berbagai  Vihara di Jakarta daripada aku. Hahahah.

Manfred juga mengumpulkan perangko namun tidak sebanyak temanku  Bertrand di Perancis.

Theo, Belanda asli. Wah saklek dah yau. Aku pernah datang terlambat di Amsterdam karena keretanya telat di Jerman. Mana jaman itu belum ada HP, semuanya masih pakai  telpon kartu.  Kereta di Eropa pada umumnya tidak pernah telat parah. Namun hari itu entah kenapa, keretaku terlambat 3 jam. Dan itu signifikan bagi orang Belanda, apalagi tanpa kabar. Jadilah aku ditinggal di Amsterdam dan hari sudah sore, dan aku harus segera merubah rencana perjalanan hari itu mencari penginapan. Dia tinggal di kota lain harus menjemputku di Central Station. Karena tidak bertemu dia jadi marah-marah. Hadehhh…

Berjalan dengan Theo agak bingungen. Hobinya dan passionnya kapal laut dan segala kapal yang ada di laut. Obrolannya berputar sekitar kapal. Waduh mana kutahu kapal ada bentuk apa saja. Tahunya perahu nelayan. Jadi dari Indonesia aku sudah kalang kabut bolak balik ke kantor Pos Pasar Baru, dan bursa perangko khusus mencari perangko mengenai kapal. Ujung-ujungnya aku jadi tahu berbagai jenis kapal laut dari berbagai negara. Dia senang sekali aku bawakan beberapa perangko mengenai kapal di Indonesia dan juga tarian serta baju daerah. Tuh ya … Daripada pusing cari souvenir ala Indonesia, perangko guna banget. Sekalian  kita bercerita mengenai budaya kita dari perangko. Di tempatnya pula di Beverwijk aku nyasar di tengah kabut. Dan akan aku ceritakan di saat lain.

Bertrand, Perancis asli. Waduh senangnya tinggal di rumahnya. Dia sesama philatelist seperti diriku. Dan pengetahuannya mengenai dunia  bisa geleng kepala. Dan semuanya dia pelajari dari Perangko saja. Dia jarang sekali bepergian keluar negeri, mungkin seumur hidupnya hanya di Perancis saja. Berhubung waktu itu dia kerja di SNCF jadilah aku bolak balik di Paris kemana-mana dengan Carnet (buku  karcis metro) pemberiannya. Seru dah.  Kami juga bepergian kemana-mana, salah satunya Istana Versailles. Aku juga pernah dihidangkan malam malam ala Perancis oleh dirinya, yang berlangsung berjam-jam. Saking kelamaan prosesi makannya, dan selama makan dijejali berbagai Wine, Merah, Putih tergantung makanannya. Sementara aku kan suka mabok kalau kebanyakan. Dan berakhir aku tidur pulas di meja makan hahahaha.

Koleksi perangkonya gila-gilaan,  hampir 400 album dari berbagai negara, terkatalog rapih di ruang kerjanya. Aku punya 40 album saja jadi bego di depannya. Ada lemari khusus untuk koleksinya. Secara keseluruhannya koleksinya dibagi atas Negara-negara, lalu setelah itu dia bagi lagi per subject dan tahun penerbitan. Takjub dah lihatnya. Koleksinya dari mulai artis-artis, kapal, presiden, flora fauna, perayaan tertentu, penerbitan khusus, souvenir sheet, sampul hari pertama (FDC = First Day Cover) dan sejuta lainnya.

Di situ pikiranku terbuka, hebat ya, orang bisa punya pengetahuan mendalam itu,hanya dari perangko. Hebatnya lagi dia bisa berdebat dan membuka pikiranku dengan koleksinya. Sungguh  ilmu itu bukan hanya harus sekolah saja. Bisa menarik sekali pelajaran sekolah dengan pelajaran dari perangko. Dari perangko juga kita bisa tahu tokoh-tokoh Fisika, Kimia,Matematika dll. Karena berbagai penemu biasanya diabadikan dalam perangko. Dalam FDC biasanya dilampirkan juga keterangan mengenai orang itu dan berbagai hasil karyanya.  Cerita perperangkoan akan aku bahasa di artikel lainnya.

Itulah sebagian terman perjalananku, tunggu kelanjutannya di http://www.jejakpetualangansijoe.com/pengalamanku

Jadi pilihlah teman perjalanan yang asik dan sekarakter. Kalau bisa cari  yang ada otaknya, hahaha. Jadi kita bisa pulang dengan tercerahkan, puas melihat suatu negara dan juga bisa berdiskusi mengisi otak.

Selamat mencari teman seperjalanan.